← Kembali ke https://kalteng.co/

Bukan Cuma Manja, 9 Frasa Ini Sering Saja Diucapkan Orang yang Pilih-Pilih Makanan

https://kalteng.co/ • 23 July 2026 16:55
Bukan Cuma Manja, 9 Frasa Ini Sering Saja Diucapkan Orang yang Pilih-Pilih Makanan

KALTENG.CO-Bagi sebagian orang, makan malam bersama pasangan, teman, atau kolega adalah momen sosial yang menyenangkan. Namun, bagi seorang picky eater atau orang yang sangat pilih-pilih makanan, suasana tersebut sering kali memicu ketidaknyamanan tersendiri.

Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan pilih-pilih makanan bukan sekadar bentuk keras kepala atau manja. Lebih dari itu, perilaku ini berakar dari pola pikir, tingkat sensitivitas sensori yang tinggi, hingga pengalaman masa lalu yang terbentuk sejak lama. Ketika berhadapan dengan menu yang terasa “asing” atau di luar zona nyaman mereka, ada respons defensif yang kerap muncul secara tidak sadar.

Melansir dari YourTango, berikut adalah 9 frasa khas yang sering diucapkan oleh para pemilih makanan saat menikmati makan malam bersama orang lain:

1. “Boleh Tolong Minta Makanan Ini Tanpa [Bahan Tertentu]?”

Frasa ini adalah kalimat ‘pertahanan pertama’ saat memesan menu. Seorang picky eater biasanya sangat mendetail mengenai komposisi makanan—mulai dari enggan mengonsumsi daun ketumbar, bawang, hingga saus tertentu. Bagi mereka, satu bahan kecil saja bisa merusak seluruh cita rasa makanan.

2. “Apakah Makanan Ini Terlalu Pedas/Asyik/Tajam Rasanya?”

Sebelum mencoba sesuatu yang baru, mereka cenderung mengajukan pertanyaan hipotetis untuk menilai tingkat risiko. Rasa yang terlalu kuat atau dominan sering kali memicu rasa tidak nyaman pada indra pengecap mereka.

3. “Aku Cuma Mau Pesan yang Sudah Pernah Kucoba Saja”

Rasa aman adalah kunci. Ketika berada di restoran baru, pemilih makanan cenderung mencari menu aman (comfort food) seperti kentang goreng, ayam goreng standar, atau pasta polos daripada berksperimen dengan menu hidangan penutup atau chef’s special.

4. “Sausnya Boleh Dipisah Saja?”

Tekstur makanan memegang peranan penting dalam psikologi pemilih makanan. Saus yang langsung dicampur sering kali membuat makanan terasa becek atau mengubah tekstur aslinya. Meminta saus dipisah memberi mereka kontrol penuh atas sejauh mana cita rasa baru tersebut masuk ke mulut.

5. “Kamu Coba Dulu deh, Nanti Beritahu Aku Rasanya Bagaimanan”

Mereka sering memanfaatkan orang di sekitar sebagai ‘penguji rasa’. Informasi mengenai tekstur, aroma, dan tingkat keaslian rasa dari orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi kecemasan mereka sebelum memberanikan diri mencicipi.

6. “Aku Sebenarnya Tidak Terlalu Lapar Kok”

Frasa ini sering dijadikan alasan halus (alibi) untuk menghindari makan dalam porsi besar atau menyentuh hidangan yang tidak familier tanpa harus merasa canggung di depan forum sosial.

7. “Boleh Minta Ganti Menu yang Lebih Sederhana?”

Kombinasi bahan makanan yang terlalu kompleks sering kali membuat picky eater merasa kewalahan. Mereka lebih menyukai makanan dengan profil rasa yang bersih, sederhana, dan mudah dikenali komponennya.

8. “Jangan Biarkan Makanan Ini Saling Bersentuhan di Piring”

Bagi sebagian pemilih makanan ekstrem, pencampuran tekstur dan rasa antar-hidangan di dalam satu piring adalah hal yang sangat dihindari. Fenomena ini dalam dunia psikologi kerap berkaitan dengan sensitivitas tekstur sensori.

9. “Aku Lebih Suka Masakan Rumah/Restoran yang Biasanya”

Frasa ini mencerminkan kebutuhan mendasar akan konsistensi. Makanan rumah atau dari restoran langganan memberikan jaminan rasa yang diprediksi, sehingga bebas dari kejutan rasa yang tidak menyenangkan.

Menghadapi atau menjadi seorang picky eater membutuhkan empati dan pemahaman sosial. Memahami frasa-frasa di atas membantu kita menyadari bahwa kebiasaan makan seseorang sering kali berkaitan erat dengan kenyamanan psikologis, bukan semata-mata bentuk penolakan atas hidangan yang disajikan. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli