KALTENG.CO-Pemerintah pusat kembali meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pulau Kalimantan. Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kini kembali ditetapkan sebagai wilayah prioritas utama penanganan karhutla secara nasional setelah mencatatkan lonjakan jumlah titik panas (hotspot).
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pergerakan angka hotspot di dua provinsi tersebut memerlukan respons cepat serta sinergi ketat antarinstansi di daerah.
Lonjakan Hotspot Signifikan di Kalbar dan Kalteng
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kemenhut per cut off 1 September, grafik hotspot di sejumlah wilayah Indonesia kembali menanjak tajam:
-
Kalimantan Barat: Melonjak drastis dari 273 titik menjadi 859 titik.
-
Kalimantan Tengah: Meningkat dari 253 titik menjadi 623 titik.
-
Sumatera Selatan: Naik dari 20 titik menjadi 89 titik.
-
Kalimantan Selatan: Bertambah dari 22 titik menjadi 73 titik.
-
Jambi: Dari nihil menjadi 4 titik, sementara Riau masih mencatatkan 0 titik.
“Setelah kemarin semua enam provinsi prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang secara nasional tetap Kalbar dan Kalteng,” ujar Menhut Raja Juli Antoni usai meninjau penanganan karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).
Rapatkan Barisan dan Strategi Mitigasi di Pontianak
Merespons dinamika di lapangan, Menhut Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bertolak ke Pontianak untuk menggelar rapat koordinasi darurat. Evaluasi ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan daerah, termasuk Gubernur, Kapolda, hingga Pangdam setempat.
Langkah strategis ini difokuskan pada dua poin utama:
-
Verifikasi Lapangan: Mengidentifikasi perubahan status hotspot menjadi fire spot (titik api riil).
-
Penurunan Titik Api: Mendorong pengerahan personel darat dan udara untuk langsung memadamkan api sebelum meluas.
Puncak El Nino September: Kewaspadaan Ekstra Lintas Sektor
Pemerintah mengimbau seluruh elemen masyarakat dan satgas daerah untuk memperketat patroli pencegahan. Pasalnya, puncak fenomena iklim El Nino diprediksi terjadi pada bulan September, yang membawa dampak kekeringan ekstrem dan meningkatkan keterbakaran lahan gambut maupun hutan.
Dengan deteksi dini melalui Sipongi serta konsolidasi personel yang solid di lapangan, pemerintah optimistis pergerakan titik api di Kalbar dan Kalteng dapat segera ditekan demi mencegah bencana asap meluas. (*/tur)