KALTENG.CO-Bagi sebagian besar anak, matematika sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan. Namun, pandangan ini tidak berlaku bagi Maggie The dan sang adik, Jeremie The. Kakak-beradik ini justru menjadikan soal matematika berbobot tinggi sebagai tantangan yang seru untuk dipecahkan.
Sejak usia dini, keduanya telah terbiasa mengasah logika, daya visualisasi, serta ketajaman problem solving melalui keikutsertaan di berbagai ajang Olimpiade Matematika.
Belajar Logika dan Pola Lewat Soal Non-Rutin
Maggie, yang saat ini duduk di Grade 3, mengungkapkan bahwa karakter soal kompetisi sangat berbeda dengan latihan berhitung rutin di dalam kelas. Kompetisi menuntut siswa untuk membaca pola, menggunakan logika mendalam, hingga membayangkan manipulasi ruang dan bentuk.
Salah satu tipe soal yang paling membekas bagi Maggie adalah soal susunan dadu bertumpuk.
“Kadang kita harus membayangkan bentuknya,” tutur Maggie. Dalam soal tersebut, peserta harus memvisualisasikan bagian dadu yang tersembunyi serta menghitung posisi dasarnya berdasarkan petunjuk yang ada.
Proses mengurai soal rumit ini melatih ketahanan mentalnya. Jika menemui jalan buntu, Maggie terbiasa untuk membaca ulang informasi soal dan mencoba strategi penyelesaian alternatif. Dari sanalah ia belajar untuk tidak mudah menyerah.
Peran Pendekatan STEAM dan Dukungan Pengajar
Perkembangan logika dan karakter pantang menyerah Maggie tak lepas dari peran sekolah dan para pendidiknya. Alfredo Francisco Bretana, Grade 2 Homeroom Teacher yang pernah mendampingi Maggie, mengaku sangat bangga melihat perkembangan anak didiknya.
Menurut Alfredo, capaian Maggie mencerminkan tiga nilai utama:
-
Curiosity (rasa ingin tahu yang tinggi).
-
Perseverance (ketekunan dalam menghadapi tantangan).
-
Excellence (semangat untuk memberikan hasil terbaik).
” Melalui pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Math), kami membina potensinya,” jelas Alfredo. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman proses berpikir, memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi solusi, hingga membentuk rasa percaya diri dalam belajar.
Semangat Jeremie: Dari Rumit Menjadi Mudah
Langkah sang kakak diikuti oleh Jeremie The, yang kini duduk di Grade 2. Menjajal kompetisi sejak dini membuat Jeremie menyadari bahwa rasa takut terhadap matematika bisa dikikis dengan latihan yang konsisten.
“Aslinya sulit, tapi kalau belajar jadi gampang. Harus semangat terus supaya makin pintar,” ujar Jeremie polos mengenai motivasinya.
Fondasi belajar keduanya juga diamati oleh Shary Faith Layawan, Grade 1A Homeroom Teacher yang pernah mengajar matematika untuk Maggie maupun Jeremie saat mereka di kelas satu. Shary menekankan pentingnya membangun rasa nyaman terhadap matematika sejak dini—termasuk keberanian untuk berbuat salah dan mencoba lagi.
Menembus Ajang Internasional
Berkat ketekunan dan pembentukan karakter belajar yang tepat, Maggie dan Jeremie kini aktif mengukir prestasi di berbagai panggung kompetisi matematika nasional maupun internasional, di antaranya:
-
SEAMO (Southeast Asian Mathematical Olympiad)
-
SIMOC (Singapore International Math Olympiad Challenge)
-
WMI (World Mathematics Invitational)
Bagi para guru dan keluarganya, deretan medali yang diraih Maggie dan Jeremie bukanlah tujuan akhir. Pencapaian ini merupakan buah dari proses panjang yang melibatkan latihan rutin, keberanian menghadapi kegagalan, serta kegigihan untuk terus berkembang menghadapi persoalan yang kian kompleks. (*/tur)