KASONGAN, Kalteng.co – Kualitas udara di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, semakin memburuk dan berada pada level berbahaya. Kondisi tersebut berdasarkan data Sistem Informasi Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (SIAPI) serta Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per Rabu, 2 September 2026.
Hasil pemantauan kualitas udara pada pukul 08.00 WIB menunjukkan angka ISPU Katingan melonjak hingga 639, dengan konsentrasi partikulat halus PM2,5 mencapai 483. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama jika tidak memiliki kepentingan mendesak.
“Pada kondisi ini kita minta kepada seluruh masyarakat jika tidak ada kepentingan mendesak, kita harapkan supaya tidak keluar rumah. Jika terpaksa keluar rumah pun, kita imbau harus menggunakan masker,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Katingan, Yobie Sandra, Rabu (2/9). Menurut Yobie, memburuknya kualitas udara tersebut dipicu meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kondisi kekeringan ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Katingan.
Ancaman karhutla di Katingan juga terlihat dari tingginya jumlah titik panas atau hotspot. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Katingan mencatat sebanyak 2.687 titik panas tersebar di wilayah tersebut sepanjang 2026 hingga 1 September. Lonjakan signifikan terjadi pada Agustus 2026. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Katingan Markus menyampaikan, berdasarkan data rekapitulasi, kemunculan titik panas mengalami peningkatan drastis sejak memasuki pertengahan tahun, terutama pada Juli dan Agustus.
2.687 Hotspot Terdeteksi
“Sepanjang Januari hingga Juni, jumlah titik panas masih relatif terkendali dengan fluktuasi di bawah 200 titik per bulan. Namun, memasuki bulan Juli, angka hotspot mulai merambat naik menjadi 152 titik, dan melonjak tajam pada Agustus hingga menyentuh angka 2.033 titik,” ujar Markus. Markus menambahkan, lonjakan hotspot tersebut dipicu cuaca kering dan kondisi lahan yang mudah terbakar di sejumlah wilayah. Bahkan, pada hari pertama September 2026 saja, terdeteksi 251 titik panas baru di wilayah Kabupaten Katingan.
Berdasarkan sebaran per kecamatan, Kecamatan Kamipang mencatat akumulasi titik panas tertinggi dengan total 459 titik. Jumlah tersebut terdiri atas 416 titik panas pada Agustus dan 43 titik pada 1 September. Posisi kedua ditempati Kecamatan Katingan Tengah dengan total 413 titik. Selanjutnya, Katingan Hilir sebanyak 343 titik, Tewang Sangalang Garing sebanyak 326 titik, serta Tasik Payawan sebanyak 296 titik.
Sementara itu, wilayah dengan jumlah titik panas terendah tercatat di Katingan Hulu sebanyak 49 titik, Petak Malai 57 titik, dan Bukit Raya 64 titik. Menyikapi tingginya potensi karhutla, Markus menegaskan BPBD Katingan bersama personel gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat peduli api terus mengoptimalkan upaya pemadaman.
Patroli di sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran juga terus dilakukan untuk mencegah api meluas dan menekan dampak karhutla terhadap masyarakat. Dengan kondisi kualitas udara yang telah mencapai level berbahaya, masyarakat diimbau tetap waspada, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. (aza)