KALTENG.CO-Kompetisi sepak bola Indonesia dinobatkan sebagai liga dengan tingkat persaingan (competitiveness level) tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Penilaian ini didasarkan pada data resmi milik Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menjelaskan bahwa persaingan di kasta tertinggi sepak bola Tanah Air berlangsung sangat ketat dan sulit diprediksi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
“Kalau kita melihat competitiveness level kita, biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tetapi pada saat Persib mau juara, itu ada kompetisi yang cukup tinggi, apalagi tahun lalu sampai minggu terakhir,” ujar Sadikin Aksa saat berbicara dalam diskusi Water Break PSSI Pers di Jakarta, Selasa (1/9/2026)
Beda Tipis Persib dan Borneo FC Jadi Bukti Nyata
Ketatnya persaingan musim lalu menjadi bukti paling jelas. Pertarungan memperebutkan gelar juara antara Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda harus dipastikan hingga laga pemungkas liga.
Meskipun Persib akhirnya keluar sebagai kampiun dan mengamankan trofi ketiganya secara beruntun, dominasi tersebut tidak didapatkan dengan mudah karena perlawanan sengit dari kontestan lain sepanjang musim.
Ungguli Dominasi Tunggal Malaysia dan Thailand
Kondisi di Indonesia berbanding terbalik dengan kompetisi di Malaysia maupun Thailand yang cenderung didominasi oleh klub-klub itu saja selama kurun waktu satu dekade terakhir.
Sadikin mencontohkan kompetisi Malaysia Super League yang selama bertahun-tahun dikuasai oleh satu klub raksasa.
“Kalau kita bandingkan Malaysia, itu yang namanya JDT (Johor Darul Ta’zim) sudah 11 kali juara berturut-turut. Ada persaingan tidak di situ? Begitulah cara penilaiannya,” tutur Sadikin.
Hal serupa juga terjadi di Thailand. Meski kualitas kompetisinya tinggi, peta persaingan perburuan gelar juara hanya berputar di lingkup klub yang sama.
“Di Thailand, kalau tidak salah cuma empat tim—Buriram United, Port FC, Bangkok United, dan satu lagi—selama sepuluh tahun yang bersaing cuma itu-itu saja. Sedangkan kita di Indonesia, competitiveness level-nya jauh lebih tinggi,” tambahnya.
Daya Tarik Investor dan Pemain Kelas Dunia
Tingginya tensi persaingan di Liga Indonesia membawa dampak positif terhadap nilai komersial kompetisi. Sadikin menegaskan, indikator data dari AFC ini menjadi magnet kuat bagi sponsor kelas atas untuk menanamkan investasinya di sepak bola nasional.
Tak hanya menggaet sponsor besar, iklim kompetitif ini juga mendongkrak daya tarik liga di mata pesepak bola internasional.
“Di situlah sebenarnya sponsor melihat. Data itu datang dari AFC, bukan dari kami,” jelas Sadikin.
“Buktinya sekarang banyak pemain berkualitas mulai melirik Indonesia. Kalau dulu mungkin yang datang pemain tier bawah, sekarang pemain second tier atau bahkan first tier sudah mau bermain di sini,” pungkasnya. (*/tur)