KALTENG.CO-Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berdampak buruk bagi siapa saja, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak balita.
Berbeda dengan orang dewasa atau anak-anak yang sudah memahami pentingnya memakai masker dan menjaga diri, bayi belum memiliki kesadaran tersebut. Terlebih lagi, penggunaan masker pada bayi sangat tidak disarankan karena berisiko mengganggu pernapasan, serta belum tersedianya masker khusus yang aman dipakai bayi secara terus-menerus.
Padahal, paparan kabut asap karhutla dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu. Pada malam hari pun, asap karhutla dapat terbawa angin dan masuk ke pemukiman sehingga memperburuk kualitas udara di dalam rumah.
Mengapa Bayi Sangat Rentan terhadap Kabut Asap?
Ada beberapa faktor biologis yang membuat dampak paparan polusi udara akibat karhutla jauh lebih berbahaya bagi bayi dibandingkan orang dewasa:
-
Saluran Pernapasan Masih Imatur: Organ paru-paru dan saluran pernapasan bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga sangat sensitif terhadap iritasi partikel halus asap.
-
Sistem Imun Belum Sempurna: Kekebalan tubuh bayi belum sekuat orang dewasa, membuat mereka lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan.
-
Laju Pernapasan Lebih Cepat: Bayi dan balita bernapas dengan frekuensi yang jauh lebih cepat dibanding orang dewasa. Artinya, volume polutan yang terhirup ke dalam organ pernapasan mereka jauh lebih banyak dalam satu waktu.
Tanda-Tanda Bayi Mengalami Gangguan Pernapasan akibat Asap
Saat kualitas udara memburuk, orang tua wajib mewaspadai beberapa gejala ketidaknyamanan yang ditunjukkan oleh bayi:
-
Nafas tampak cepat atau sesak (wheezing)
-
Mengalami demam
-
Terlihat lemas dan tidak aktif seperti biasanya
-
Rewel dan sering menangis tanpa sebab yang jelas
-
Enggan atau menolak untuk menyusu (ASI) maupun minum
Langkah Efektif Melindungi Bayi dari Polusi Asap Karhutla
Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua ketika masker bukan menjadi opsi aman bagi bayi? Melansir panduan kesehatan dari RSPP dan KlikDokter, berikut langkah-langkah perlindungan ekstra yang dapat diterapkan di rumah:
1. Jaga Udara di Dalam Ruangan Tetap Bersih
Usahakan agar bayi tetap berada di dalam rumah (indoor). Tutup rapat seluruh pintu dan jendela untuk mencegah asap karhutla masuk. Jika memungkinkan, gunakan pemurni udara (air purifier) yang dilengkapi filter HEPA untuk menyaring partikel mikroskopis dari udara.
2. Hindari Aktivitas Luar Ruangan
Tunda semua kegiatan di luar rumah bersama bayi, termasuk jalan-jalan pagi, hingga indeks standar pencemaran udara (ISPU) menunjukkan level aman.
3. Penuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisi (ASI Eksklusif)
Tetap berikan ASI secara teratur. Kandungan antibodi dalam ASI sangat penting untuk memperkuat sistem imun bayi dalam melawan potensi infeksi. Cairan yang cukup juga membantu menjaga tenggorokan bayi tidak kering.
4. Ciptakan Lingkungan Bebas Polutan Tambahan
Pastikan tidak ada polutan sekunder di dalam rumah yang memperburuk kondisi udara, seperti asap rokok, obat nyamuk bakar, pembersih berbau menyengat, atau debu yang menumpuk. Gunakan kain lembap saat membersihkan perabotan rumah agar debu tidak berterbangan.
5. Segera Konsultasi ke Fasilitas Kesehatan
Jika bayi menunjukkan gejala sesak nafas, bibir tampak kebiruan, atau lemas tidak mau menyusu, segera bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis secara cepat. (*/tur)