← Kembali ke https://kalteng.co/

Cegah Kebakaran Gambut Lebih Awal, Teknologi AI Hotama Mampu Prediksi Risiko Karhutla Hingga 24 Bulan

https://kalteng.co/ • 28 August 2026 10:48
Cegah Kebakaran Gambut Lebih Awal, Teknologi AI Hotama Mampu Prediksi Risiko Karhutla Hingga 24 Bulan

KALTENG.CO-Langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat kini memasuki babak baru.

Jika selama ini penanganan Karhutla lebih banyak berfokus pada pemadaman saat titik api (hotspot) sudah muncul, kini hadir inovasi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang khusus untuk memprediksi potensi kebakaran hingga 24 bulan ke depan.

Teknologi canggih ini dikembangkan oleh Hotama Technologies, sebuah perusahaan pengembang teknologi asal Kalimantan Barat yang dipimpin oleh Hajon Mahdy. Menariknya, inovasi ini tidak komersialkan, melainkan dihibahkan secara gratis kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat guna memaksimalkan upaya mitigasi bencana tahunan tersebut.

Membawa Pendekatan Predictive Analytics dalam Mitigasi Karhutla

Teknologi pemetaan risiko Karhutla ini mengusung metode predictive analytics berbasis kecerdasan buatan. Sistem tersebut bekerja dengan cara mengolah dan mengorelasikan berbagai variabel data lingkungan, cuaca, hingga kondisi histori lahan dalam suatu wilayah untuk rentang waktu tertentu.

Pengembang menegaskan bahwa sistem AI ini tidak bekerja untuk menghasilkan keputusan yang bersifat absolut, melainkan meningkatkan derajat probabilitas serta kalkulasi tingkat risiko. Dengan demikian, pemangku kebijakan dapat memetakan wilayah mana saja yang rentan dilanda api jauh sebelum bencana terjadi.

Dalam sebuah diskusi penanganan Karhutla yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kalimantan Barat, Hajon Mahdy menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari responsif menjadi preventif.

“Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,” ungkap Hajon, Kamis (27/8/2026).

Inovasi Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) Khusus Lahan Gambut

Salah satu keunggulan utama dari sistem AI Hotama Technologies adalah hadirnya fitur Peat Fire Vulnerability Index (PFVI). Indeks ini dirancang secara khusus untuk mengidentifikasi serta memetakan tingkat kerentanan kebakaran pada ekosistem lahan gambut.

Kawasan gambut di Kalimantan Barat dikenal memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan dengan lahan mineral. Ketika muka air tanah gambut menyusut dan mengering, api kerap menjalar di bawah permukaan (subsurface fire). Kondisi ini menyebabkan pemadaman menjadi sangat sulit dan api berpotensi membara dalam jangka waktu lama tanpa terlihat dari permukaan.

Melalui integrasi indikator ekologis pada fitur PFVI, sistem mampu memperkirakan titik-titik gambut yang mengalami peningkatan derajat kerentanan.

Integrasi model prediksi ini mengubah pendekatan pemantauan Karhutla: dari yang semula sekadar menjawab “di mana titik api muncul hari ini?” menjadi “wilayah gambut mana yang tingkat kerentanannya meningkat dan butuh intervensi sebelum api membakar?”

“Kalau kita baru bergerak setelah hotspot muncul, kita sudah berada pada fase kejadian. Peat Fire Vulnerability Index kami kembangkan agar kita bisa melihat kerentanan kawasan lebih awal. Tujuannya sederhana: jangan menunggu ada api untuk mulai bergerak,” tegas Hajon.

Mendorong Kolaborasi Keterbukaan Data Demi Hasil Optimal

Akurasi dan kinerja model pemetaan AI sangat bergantung pada kelengkapan serta kualitas data pendukung yang dimasukkan ke dalam sistem. Semakin kaya dan komprehensif data yang diolah, semakin presisi pula gambaran tingkat risiko yang dihasilkan.

Melalui pemetaan risiko berjangka panjang ini, pemerintah daerah beserta tim satgas di lapangan memiliki waktu yang cukup untuk merancang langkah efisiensi—seperti rewetting (pembasahan kembali lahan gambut), patroli terpadu, hingga penyuluhan masyarakat setempat sebelum memasuki periode kritis.

Menanggapi implementasi sistem ini, Hajon memastikan bahwa Pemprov Kalbar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara cuma-cuma demi kepentingan masyarakat luas.

“Teknologinya kami hibahkan. Kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi dan akses terhadap data yang relevan agar AI dapat bekerja semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli