PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kepedulian terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditunjukkan mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR). Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bersama gabungan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UPR) turun langsung ke lapangan menjadi relawan pemadam kebakaran.
Aksi tersebut dilakukan menyusul kebakaran lahan gambut yang kembali terjadi di kawasan Kampus UPR. Pada Jumat (21/8/2026), titik api kian membesar sehingga memicu reaksi cepat dari kalangan mahasiswa.
Berbekal peralatan pemadam dan semangat solidaritas, para mahasiswa bahu-membahu membantu melokalisasi titik api di area lahan gambut. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kobaran api semakin meluas dan mendekati fasilitas kampus maupun permukiman warga di sekitar kawasan UPR.
Para relawan mahasiswa juga bekerja sama dengan tim pemadam universitas lainnya. Mereka berjibaku di tengah kepulan asap pekat dan hawa panas yang menyengat untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api kembali menjalar.
Sementara itu, Dekan FISIP UPR Prof Bhayu Rhama, S.T., MBA., Ph.D. menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan inisiatif BEM serta seluruh Ormawa FISIP UPR yang turut hadir membantu penanganan kebakaran lahan tersebut.
Menurutnya, kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah menjaga ketenangan, keselamatan, dan semangat gotong royong. Setiap aksi di lapangan harus tetap mengutamakan keselamatan dan dilakukan secara terkoordinasi dengan tim yang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam penanganan karhutla,” ujar Dekan FISIP UPR.
Ia menambahkan, musibah karhutla tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan sesaat. Kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran.
Selain itu, diperlukan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara bersama-sama.
“Mahasiswa adalah bagian penting dari masyarakat. Kehadiran mereka di tengah situasi sulit seperti ini hendaknya menjadi energi positif bagi semua pihak. Mari kita jaga semangat solidaritas, saling membantu, dan bersama-sama mencari solusi agar persoalan karhutla dapat ditangani dengan baik serta tidak terus berulang,” pungkasnya.
Kebakaran lahan yang terjadi di kawasan UPR tersebut sudah berlangsung selama tiga hari. Kebakaran bermula dari kawasan Gedung PPIIG UPR dan saat ini api sudah mulai merembet ke sekitar wilayah FMIPA, FISIP, hingga Studio Lama UPR.
Mengingat UPR berada di kawasan dengan hamparan lahan gambut yang cukup luas, kondisi ini membutuhkan perhatian dan penanganan serius agar api tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Hingga Jumat petang, para relawan mahasiswa bersama petugas gabungan masih terus melakukan pendinginan (mopping up). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala akibat hembusan angin.
Keterlibatan mahasiswa dalam penanganan karhutla ini menjadi bentuk nyata kepedulian sivitas akademika terhadap lingkungan sekaligus menunjukkan pentingnya semangat gotong royong dalam menghadapi bencana yang mengancam kawasan kampus dan sekitarnya. (hms/aza)