KUALA KURUN, Kalteng.co – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah seiring kondisi cuaca panas dan kering. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kesehatan pelajar, khususnya siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Anggota DPRD Kabupaten Gunung Mas Pdt Rayaniatie Djangkan meminta pemerintah dan pihak sekolah meningkatkan perhatian terhadap kondisi kualitas udara. Menurutnya, kesehatan dan keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas ketika kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat. “Di musim panas dan berkabut seperti ini, anak-anak sekolah SD dan SMP sudah seharusnya menggunakan masker,” kata Rayaniatie saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).
Selain penggunaan masker, Rayaniatie mendorong pemerintah dan pihak sekolah mempertimbangkan penyesuaian jam belajar apabila kondisi kabut asap semakin memburuk. Menurutnya, durasi kegiatan belajar mengajar dapat dikurangi sebagai langkah antisipasi untuk meminimalkan paparan udara yang berpotensi mengganggu kesehatan siswa.
Ia menegaskan, pengurangan jam belajar bukan berarti mengesampingkan pendidikan. Sebaliknya, kebijakan tersebut dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap peserta didik ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat. “Jam pelajarannya juga perlu dikurangi, sehingga bisa mencegah penyakit ISPA dan penyakit lainnya,” ujarnya.
Rayaniatie juga meminta kondisi cuaca dan kualitas udara dipantau secara berkala oleh instansi terkait. Jika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara memburuk, pemerintah bersama pihak sekolah diharapkan segera mengambil langkah yang paling aman bagi peserta didik. Menurutnya, kegiatan belajar mengajar tetap penting untuk memastikan proses pendidikan berjalan. Namun, kesehatan anak tidak boleh diabaikan.
“Jangan sampai siswa pulang membawa tugas sekolah, tetapi juga membawa bonus batuk dan sesak napas,” ujarnya. Karena itu, Rayaniatie menilai diperlukan sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk memastikan aktivitas pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan para pelajar. “Sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan aktivitas belajar tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan para pelajar,” pungkasnya. (aza)