PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Musim kemarau belum juga berakhir. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya justru terus meluas. Dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan, ratusan kejadian telah menghanguskan lebih dari seribu hektare lahan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, tercatat 529 kejadian karhutla sejak 1 Juni hingga 13 September 2026. Total luas lahan yang terdampak mencapai 1.055,56 hektare. Angka tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih tinggi di tengah kondisi kemarau. Personel gabungan bersama relawan pun harus terus bersiaga untuk merespons laporan kebakaran sekaligus mencegah api meluas.
Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kota Palangka Raya Balap Sipet mengatakan, personel saat ini dalam kondisi siaga dan siap bergerak setiap kali menerima laporan dari masyarakat. “Seluruh personel BPBD bersama relawan terus bersiaga untuk merespons setiap potensi kebakaran yang terjadi,” kata Balap, Senin (14/9/2026).
Dari ratusan kejadian tersebut, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan catatan karhutla tertinggi. Sebanyak 345 kejadian tercatat terjadi di wilayah tersebut. Kecamatan Sabangau berada di posisi berikutnya dengan 111 kejadian, disusul Pahandut sebanyak 46 kejadian. Sementara Bukit Batu mencatat 24 kejadian dan Rakumpit menjadi wilayah dengan jumlah kejadian paling sedikit, yakni tiga kasus.
Tingginya ancaman kebakaran membuat Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat karhutla. Status tersebut berlaku mulai 9 September hingga 8 Oktober 2026 untuk memperkuat langkah penanganan selama musim kemarau. “Penetapan status tanggap darurat ini dilakukan agar seluruh sumber daya yang ada dapat digerakkan secara maksimal, baik untuk kegiatan patroli, pencegahan, maupun pemadaman ketika ditemukan titik api,” jelas Balap.
Dalam penanganannya, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, relawan dan sejumlah instansi terkait terus memperkuat patroli serta koordinasi di wilayah rawan. Masyarakat juga diminta ikut mencegah munculnya titik api, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan meluasnya karhutla di Kota Palangka Raya,” pungkasnya. (oiq)