← Kembali ke https://kalteng.co/

Palangka Raya Dikepung Asap Pekat! AQI Tembus 903, Kompleks TPU Km 12 Jadi Sasaran Kobaran Api

https://kalteng.co/ • 14 September 2026 06:55
Palangka Raya Dikepung Asap Pekat! AQI Tembus 903, Kompleks TPU Km 12 Jadi Sasaran Kobaran Api

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menunjukkan ancamannya di Kota Palangka Raya. Saat kualitas udara memburuk dan kabut asap semakin pekat, api kembali muncul di kawasan TPU Kristen Km 12, Jalan Tjilik Riwut, Minggu (13/9/2026) malam.
?
?Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Palangka Raya yang tergabung dalam Satgas Karhutla bergerak melakukan pemadaman di kawasan tersebut. Penanganan dilakukan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah penjalaran kebakaran ke area di sekitarnya.
?
?Lokasi kebakaran yang berada di sekitar TPU Kristen Km 12 menjadi perhatian karena api muncul ketika kondisi Karhutla di Palangka Raya masih belum sepenuhnya terkendali. Lahan yang kering, kepulan asap dan munculnya titik-titik kebakaran baru membuat upaya pemadaman harus terus dilakukan secara intensif.
?
?Situasi di lapangan juga berlangsung bersamaan dengan memburuknya kualitas udara Kota Palangka Raya. Pada Minggu (13/9/2026), indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya dilaporkan mencapai 903 atau kategori berbahaya, sementara jarak pandang di kawasan Bandara Tjilik Riwut hanya sekitar 300 meter akibat pekatnya asap.
?
?Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak Karhutla bukan lagi sebatas persoalan munculnya api di kawasan hutan dan lahan. Asap yang dihasilkan telah memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang, sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta meningkatkan risiko terhadap kesehatan.
?
?Di saat yang sama, penanganan Karhutla di Palangka Raya masih terus dilakukan di sejumlah lokasi. Sebelumnya, pada 10 September 2026, tim gabungan harus menangani 14 titik kebakaran di Palangka Raya dan Katingan, dengan sebagian besar titik berada di wilayah Kota Palangka Raya. Lokasinya antara lain Bukit Tunggal, Marang, Kereng Bangkirai, Sabaru, Petuk Katimpun hingga Kelurahan Palangka.
?
?Bahkan, operasi pemadaman di Palangka Raya juga menghadapi kendala jarak pandang akibat asap. Dalam satu hari, Satgas darat dilaporkan berhasil memadamkan kebakaran seluas sekitar 140 hektare, dari total sekitar 213,3 hektare lahan yang terbakar berdasarkan pemantauan saat itu.
?
?Ancaman tersebut diperkuat dengan pemantauan titik panas yang masih menunjukkan aktivitas Karhutla di Kalteng. Data SiPongi yang dilaporkan pada 10 September mencatat hotspot Kalteng kembali melonjak menjadi 2.340 titik, setelah sehari sebelumnya berada di angka 950 titik.
?
?Untuk wilayah Palangka Raya sendiri, pemantauan pada 13 September mencatat 442 deteksi titik panas yang tersebar di sejumlah kecamatan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemunculan api dan panas di wilayah kota masih menjadi persoalan yang harus diantisipasi secara serius.
?
?Tak hanya pemadaman konvensional, penanganan juga diperkuat dengan teknologi. Korpasgat TNI AU sebelumnya menggunakan drone thermal untuk memetakan titik panas di kawasan Sebangau, Palangka Raya. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menemukan titik api maupun bara yang sulit terlihat secara langsung, terutama ketika lokasi dipenuhi asap.
?
?Kondisi ini membuat pemadaman di TPU Kristen Km 12 menjadi bagian dari gambaran lebih besar tentang situasi Karhutla Palangka Raya. Api terus diburu di lapangan, sementara masyarakat dihadapkan pada persoalan lain berupa asap dan kualitas udara yang memburuk.
?
??Di tengah situasi tersebut, kewaspadaan masyarakat menjadi semakin penting. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di lahan terbuka perlu dihentikan, sementara setiap kemunculan titik api harus segera dilaporkan agar dapat ditangani sebelum meluas.
?
?Karhutla kali ini bukan hanya tentang seberapa luas lahan yang terbakar, tetapi juga tentang seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Ketika api kembali muncul di sekitar kawasan TPU Kristen Km 12 dan pada saat yang sama udara Palangka Raya berada dalam kondisi berbahaya, ancaman Karhutla jelas belum bisa dianggap selesai. (pra)
?
?
?EDITOR: BANG TUR

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli