KALTENG.CO-Harga emas dunia diproyeksikan bakal bergerak sangat volatil pada perdagangan pekan depan. Kombinasi antara meningkatnya ketegangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi pemicu utama fluktuasi harga komoditas logam mulia ini.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa harga emas dunia diperkirakan bergerak dalam rentang USD 4.102 hingga USD 4.650 per troy ounce.
Setelah sempat ditutup pada level USD 4.348 per troy ounce pada sesi perdagangan sebelumnya, Ibrahim menilai emas masih memiliki ruang untuk terkoreksi maupun melanjutkan penguatannya.
Analisis Teknis: Level Support dan Resistance Emas
Untuk mengantisipasi arah pergerakan pasar, investor perlu mencermati beberapa titik krusial (support dan resistance) berikut:
-
Skenario Pelemahan (Koreksi):
-
Support 1: USD 4.245 per troy ounce
-
Support 2: USD 4.102 per troy ounce
-
-
Skenario Penguatan (Rally):
-
Resistance 1: USD 4.479 per troy ounce
-
Resistance 2: USD 4.650 per troy ounce
-
Faktor Pendorong Pergerakan Pasar
Ada dua sentimen utama yang bakal mendikte arah harga emas dalam beberapa hari ke depan:
1. Eskalasi Geopolitik dan Fenomena Safe Haven
Konflik geopolitik yang terus memanas membuat investor cenderung mengamankan dana mereka pada aset berisiko rendah (safe haven) seperti emas. Perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai di Eropa Timur serta memuncaknya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah menjadi pemicu utama.
Meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah turut mengganggu jalur pelayaran vital, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Merah. Gangguan pada jalur logistik ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
2. Ancaman Inflasi dan Suku Bunga The Fed
Kenaikan harga minyak mentah secara langsung menebar ancaman inflasi global. Jika inflasi AS kembali melonjak, bank sentral AS (The Fed) berpotensi mengambil langkah tegas dengan menaikkan atau mempertahankan suku bunga di level tinggi.
“Kenaikan suku bunga ini yang kemungkinan besar akan memengaruhi pelemahan terhadap harga emas dunia,” ujar Ibrahim.
Suku bunga yang tinggi umumnya menguatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Perdagangan emas pekan ini diprediksi diwarnai dengan ketidakpastian tinggi. Bagi Anda para pelaku pasar dan investor, sangat disarankan untuk berhati-hati dalam mengambil posisi, serta terus memantau rilis data inflasi AS dan perkembangan tensi politik di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan investasi. (*/tur)