KALTENG.CO-Aroma dupa dan tangis haru memenuhi sebuah pusat komunitas di Distrik Nishinari, Osaka, Jepang. Puluhan orang duduk berjejer, merapatkan tangan dalam doa, lalu satu per satu meletakkan krisan putih di atas peti jenazah.
Suasana duka itu bukan dihadiri oleh kerabat sedarah, melainkan oleh sesama lansia yang terikat dalam satu janji manis: saling mengantar hingga ke liang lahat.
Di tengah krisis penuaan populasi dan ancaman kodokushi (fenomena mati kesepian di Jepang), warga Distrik Nishinari punya cara tersendiri untuk menjaga martabat mereka.
Menjaga Martabat di Tengah Kesendirian
Bagi lansia tanpa keluarga, dibayangi ketakutan meninggal tanpa ada yang mengetahui adalah kenyataan pahit. Berawal dari keprihatinan ini, kelompok sukarelawan Kamagasaki Miokuri no Kai (Kamagasaki Send-off Association) hadir sejak Februari 2012.
Didirikan oleh Yoshihiro Sugimoto (82), organisasi sosial ini kini dipimpin oleh Toyoko Nakahara (65), seorang pendeta Buddha yang tersentuh untuk bergabung setelah menyaksikan kisahnya di televisi pada 2018.
“Meninggal sendirian adalah hal yang bisa dialami siapa saja. Saya ingin hadir, baik dalam kehidupan maupun kematian mereka,” ungkap Nakahara.
Bagaimana Komunitas Ini Bekerja?
Komunitas ini berfokus mendampingi warga Nishinari—khususnya para penerima bantuan sosial. Sistem yang mereka bangun tergolong sangat rapi dan saling menguatkan:
-
Iuran terjangkau: Anggota hanya membayar iuran sebesar 100 yen (sekitar Rp11.400) per bulan.
-
Perjanjian legal: Sekitar 70 dari total 100 anggotanya telah menandatangani dokumen khusus. Dokumen ini memberi wewenang legal kepada asosiasi untuk mengurus pemakaman dan peninggalan mereka saat wafat.
-
Kartu identitas darurat: Tiap anggota mengantongi kartu berisi info agama serta kontak pengurus. Jika ada anggota yang wafat di rumah sakit atau panti, pihak medis langsung menghubungi asosiasi.
-
Pemakaman layak: Biaya pemakaman ditutupi dari subsidi pemerintah untuk penerima kesejahteraan, dibantu rumah duka lokal yang menyediakan altar dan bunga gratis.
Jejak Kelam Nishinari dan Para Mantan Pekerja Harian
Kawasan Kamagasaki di Distrik Nishinari punya rekam jejak panjang. Dulu, wilayah ini menjadi magnet bagi para pekerja harian dari seluruh Jepang yang mengadu nasib demi menopang pertumbuhan ekonomi pesat negara tersebut.
Mayoritas anggota pria di asosiasi ini adalah mantan pekerja keras tersebut, sementara anggota wanita umumnya adalah janda dari para pekerja harian. Kebanyakan dari mereka hidup terpisah dari keluarga dan enggan mengungkit masa lalu.
Kazuyasu Ikeda (82), salah satu anggota tertua yang pindah ke Nishinari 30 tahun lalu, mengaku telah menghadiri sekitar 50 pemakaman sesama anggota.
“Sangat sepi jika harus meninggal sendirian. Diantar oleh orang lain seperti ini membantu menjaga martabat kita sebagai manusia,” kata Ikeda.
Bukan Sekadar Pemakaman, Tapi Juga Rumah Kedua
Fungsi Kamagasaki Miokuri no Kai tidak berhenti pada urusan kematian. Komunitas ini hidup justru untuk merawat hari tua anggotanya.
Aktivitas Rutin Komunitas:
1. Pertemuan berkala untuk saling menyapa dan mengobrol.
2. Ziarah dan kunjungan makam bersama.
3. Pembagian buletin tiap dua bulan (sekaligus sarana mengecek kondisi kesehatan lansia).
4. Sesi berbagi kenangan untuk mengenang anggota yang telah berpulang.
Tantangan Masa Depan: Populasi yang Kian Menua
Tugas komunitas ini dipastikan bakal makin berat. Berdasarkan data setempat, proporsi warga berusia 65 tahun ke atas di Distrik Nishinari sudah menyentuh 36,1 persen—angka tertinggi di Osaka dan jauh melampaui rata-rata nasional Jepang.
Nakahara mengakui bahwa beban kerja pengelolaan asosiasi kian melonjak seiring bertambahnya usia para anggota. Harapan terbesarnya saat ini adalah menggaet lebih banyak relawan muda untuk meneruskan tongkat estafet kemanusiaan ini, agar tak ada satu pun lansia di Nishinari yang harus berpulang dalam kesepian. (*/tur)