← Kembali ke https://kalteng.co/

Mahasiswa UPR Kembangkan Bedak Dingin Berbahan Kayu Tumih dan Daun Putat

https://kalteng.co/ • 12 September 2026 14:21
Mahasiswa UPR Kembangkan Bedak Dingin Berbahan Kayu Tumih dan Daun Putat

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Empat mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan inovasi kosmetik tradisional berbasis bahan alam khas Kalimantan Tengah. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), mereka merancang bedak dingin generasi baru untuk membantu mengatasi masalah kulit berminyak.

Inovasi tersebut memadukan arang aktif kayu tumih (Combretocarpus rotundatus) dengan ekstrak daun putat (Planchonia valida). Kedua bahan lokal tersebut dipilih karena memiliki potensi berbeda namun saling melengkapi dalam membantu mengendalikan kondisi kulit.

Ketua tim riset, Anisa Nugraha Heni, mengatakan penelitian ini berangkat dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya remaja dan dewasa muda yang tinggal di wilayah beriklim tropis. “Iklim tropis Indonesia membuat produksi minyak atau sebum pada wajah cenderung tinggi. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan munculnya jerawat dan komedo,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong tim untuk mengembangkan kembali bedak dingin yang selama ini dikenal sebagai salah satu kosmetik tradisional berbahan dasar beras. Namun, bedak dingin dalam penelitian ini tidak sekadar menghidupkan kembali produk tradisional. Tim mencoba mengembangkannya menjadi produk fungsional yang memiliki dasar ilmiah dan dapat diuji efektivitasnya secara kuantitatif.

Anisa menjelaskan, salah satu keunggulan penelitian tersebut terletak pada kombinasi dua bahan aktif dengan mekanisme kerja yang berbeda. Arang aktif kayu tumih yang merupakan tumbuhan khas lahan gambut Kalimantan Tengah dimanfaatkan sebagai adsorben. Struktur mikropori dan luas permukaannya memungkinkan arang aktif menyerap minyak serta kotoran pada permukaan kulit.

Sementara itu, ekstrak daun putat dipilih karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin dan senyawa antioksidan lainnya yang berpotensi memberikan aktivitas antibakteri sekaligus membantu menjaga kondisi kulit. “Jadi, kami tidak hanya mengandalkan satu bahan aktif. Arang aktif kayu tumih berperan dalam menyerap minyak, sedangkan ekstrak daun putat memberikan aktivitas bioaktif,” jelasnya.

Pendekatan tersebut, lanjut Anisa, menjadi pembeda dibandingkan penelitian bedak dingin sebelumnya. Tim tidak hanya mengembangkan formulasi, tetapi juga melakukan pengukuran secara kuantitatif menggunakan skin analyzer untuk melihat efektivitas produk dalam menurunkan kadar sebum pada kulit.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan. Anisa Nugraha Heni dari Program Studi Fisika bertindak sebagai ketua tim, bersama Ade Theresia Hutauruk dari Fisika, Muhammad Ramadhani dari Farmasi, dan Rumita dari Kimia. Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan dosen pendamping Made Dirgantara, S.Si., M.Si.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian. Keilmuan fisika, farmasi dan kimia dipadukan untuk mengolah bahan alam lokal menjadi inovasi kosmetik yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Selain melaksanakan penelitian, tim juga aktif mendiseminasikan hasil riset melalui berbagai forum ilmiah. Sejumlah kegiatan seminar yang telah diikuti di antaranya SEMIRATA, Seminar Mahasiswa dan BASISTORA.

Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi tim untuk memperkenalkan perkembangan penelitian sekaligus memperluas jejaring akademik di tingkat regional maupun nasional. Melalui riset ini, mahasiswa UPR tidak hanya berupaya menghadirkan alternatif kosmetik berbasis bahan alam, tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi sumber daya lokal Kalimantan Tengah melalui pendekatan ilmiah.

“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi salah satu langkah dalam mengembangkan potensi bahan alam lokal Kalimantan Tengah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” pungkas Anisa.(bam)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli