← Kembali ke https://kalteng.co/

Mengapa Orang Cenderung Memilih Cara Rumit untuk Menenangkan Diri? Ini Penjelasan Psikologi

https://kalteng.co/ • 12 September 2026 10:12
Mengapa Orang Cenderung Memilih Cara Rumit untuk Menenangkan Diri? Ini Penjelasan Psikologi

KALTENG.CO-Ada sesuatu yang unik dari cara manusia merespons tekanan hidup. Kita kerap kali sadar sedang tidak baik-baik saja, tetapi alih-alih mengambil penawar sederhana, kita justru memilih cara yang rumit dan melelahkan untuk merasa lebih baik.

Saat pikiran terasa penuh, jemari kita refleks membuka media sosial hingga berjam-jam (scrolling). Ketika tubuh dan mental berada di titik lelah terendah, kita justru memaksakan diri untuk tetap produktif. Saat merasa kesepian, kita sibuk berburu validasi luar.

Bahkan ketika tubuh sebenarnya hanya membutuhkan hal-hal mendasar—seperti tidur yang cukup, asupan nutrisi yang layak, hirupan udara segar, atau beberapa menit hening tanpa tuntutan—kita kerap mengabaikannya karena menganggapnya terlalu sepele. Seolah-olah rasa tenang adalah sesuatu yang harus selalu “diperjuangkan” melalui usaha yang ekstra keras.

Padahal, secara psikologis, banyak bentuk ketenangan sejati justru bersumber dari hal-hal yang sangat sederhana: berhenti sejenak, mengekspresikan emosi tanpa menghakimi diri sendiri, berada di lingkungan yang aman, terhubung secara jujur dengan orang terdekat, hingga memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat.

Mengapa kita kerap melewatkan cara-cara paling mudah tersebut? Jawabannya bukan karena manusia tidak tahu cara merawat diri (self-care). Ada mekanisme psikologis tertentu yang membuat pikiran manusia lebih tertarik pada solusi yang rumit, intens, dan terkadang justru menambah kelelahan baru.

Mengutip dari Psychology Today, berikut adalah tujuh alasan psikologis di balik fenomena tersebut:

1. Bias Kompleksitas (Complexity Bias)

Otak manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk menganggap bahwa masalah yang terasa berat dan rumit harus diselesaikan dengan solusi yang sama rumitnya. Akibatnya, ketika kita mengalami stres tingkat tinggi, otak secara intuitif menolak saran sederhana seperti “istirahatlah” atau “tarik napas dalam-dalam”, karena dianggap terlalu mudah untuk masalah yang terasa begitu besar.

2. Dopamin dan Dorongan Mencari Stimulasi

Perasaan cemas atau cemas berlebih (overthinking) sering kali memicu tubuh untuk berada dalam mode siaga tinggi (fight or flight). Dalam kondisi ini, sistem saraf kita menuntut stimulasi berintensitas tinggi untuk mengimbangi lonjakan energi tersebut. Beralih ke media sosial, belanja impulsif, atau memicu perdebatan kerap dipilih secara tidak sadar karena memberikan kejutan dopamin cepat, meski tidak menyelesaikan akar masalah.

3. Produktivitas Sebagai Perisai Emosional

Dalam budaya modern yang mengagungkan kesibukan, melambat sering kali disalahartikan sebagai bentuk kemalasan. Mengalihkan rasa cemas dengan menambah tumpukan pekerjaan (hustle culture) memberikan ilusi bahwa kita sedang memegang kendali. Padahal, sibuk berlebih kerap kali hanya digunakan sebagai perisai untuk menghindari perasaan tidak nyaman yang belum selesai.

4. Jebakan Kendali dalam Overthinking

Saat menghadapi ketidakpastian, memikirkan ratusan skenario terburuk terasa seperti bentuk persiapan yang bijak. Padahal, overthinking bukanlah bentuk pemecahan masalah yang efektif, melainkan upaya cemas untuk mengontrol masa depan. Kita terjebak dalam proses berpikir yang rumit karena hal itu memberikan kepuasan semu bahwa kita sedang “melakukan sesuatu”.

5. Merasa Ketenangan Harus “Diupayakan”

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa segala hal yang berharga dalam hidup—termasuk kedamaian pikiran—harus diraih dengan kerja keras dan penderitaan terlebih dahulu. Konsep bahwa ketenangan bisa didapatkan secara gratis hanya dengan berhenti sejenak dan bernapas terasa tidak alami bagi mereka yang terbiasa hidup dalam tekanan tinggi.

6. Rasa Cemas Saat Kondisi Hening

Bagi orang yang terbiasa berada dalam lingkar stres kronis, keheningan justru terasa menakutkan. Ketika suasana mendadak tenang dan tanpa gangguan, pikiran-pikiran atau emosi terpendam yang selama ini dihindari sering kali muncul ke permukaan. Akibatnya, kita memilih untuk tetap sibuk dan memilih cara-cara rumit agar pikiran tetap terdistraksi.

7. Ketidaktahuan Cara Meregulasi Sistem Saraf

Banyak orang belum memahami bahwa ketenangan bukan sekadar konsep di dalam kepala, melainkan respons biologis tubuh. Tanpa pemahaman mendasar tentang cara kerja sistem saraf, kita terus mencoba menyelesaikan masalah emosional dan fisik hanya lewat pikiran, alih-alih meresponsnya dengan tindakan fisik yang menenangkan seperti tidur, bergerak perlahan, atau meregangkan otot.

Kembalikan Fokus pada Hal-Hal Mendasar

Memahami mekanisme psikologis ini membantu kita untuk lebih bijak saat menghadapi stres. Ketenangan tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit, aplikasi pengatur waktu yang mahal, atau perubahan gaya hidup yang drastis.

Ketika merasa mulai kewalahan, cobalah untuk menyederhanakan respons. Beri tubuh hak dasarnya untuk beristirahat, luapkan emosi secara sehat, dan izinkan diri untuk berhenti sejenak tanpa merasa bersalah. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli