PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di Kota Palangka Raya, tetapi juga mulai berdampak pada penghasilan para pedagang kecil. Kondisi tersebut dirasakan sejumlah pedagang yang berjualan di kawasan bawah Jembatan Kahayan. Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas jual beli disebut mengalami penurunan seiring kondisi udara yang dipenuhi asap.
Pedagang yang biasanya mengandalkan ramainya masyarakat untuk mendapatkan penghasilan harian kini harus menghadapi situasi berbeda. Jumlah pembeli yang datang berkurang, sementara mereka tetap harus membuka lapak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kabut asap membuat sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi ini secara tidak langsung turut memengaruhi sektor perdagangan, terutama pedagang kaki lima dan usaha kecil yang mengandalkan pembeli secara langsung.
Salah seorang pedagang di kawasan bawah Jembatan Kahayan mengatakan, kondisi sepi pembeli mulai terasa ketika kabut asap semakin pekat. “Kalau biasanya ramai, sekarang pembeli berkurang. Mungkin banyak yang memilih di rumah karena asap,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026).
Meski demikian, para pedagang tetap berusaha bertahan dengan membuka dagangan seperti biasa. Bagi mereka, berjualan menjadi sumber pemasukan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak Karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan dan kesehatan. Ketika aktivitas masyarakat berkurang akibat kabut asap, perputaran ekonomi di tingkat bawah pun ikut terdampak.
Para pedagang berharap kondisi udara di Palangka Raya segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman dan geliat perdagangan kembali normal. Penanganan Karhutla dan upaya mengurangi dampak kabut asap pun menjadi penting, tidak hanya untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mempertahankan aktivitas ekonomi warga yang menggantungkan pendapatan dari kegiatan sehari-hari. (pra)