KALTENG.CO-Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya memperkuat sinergi lintas sektor dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kendati titik panas (hotspot) menunjukkan tren penurunan, kewaspadaan seluruh pihak diimbau tidak boleh mengendur.
Dalam kunjungannya di Palembang, Sumatera Selatan, Menhut menekankan bahwa keberhasilan menekan ancaman karhutla membutuhkan kerja bersama yang konsisten antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga elemen masyarakat bawah.
Sinergi Lintas Sektor Kunci Bebas Api
Menhut menyatakan optimismenya bahwa kolaborasi yang solid antarinstansi mampu menjaga tren positif ini. Penanganan karhutla tidak bisa mengandalkan satu instansi semata, melainkan gabungan dari berbagai garda terdepan di lapangan.
“Saya kira kita optimistis di bawah kepemimpinan Pak Gubernur, Pak Kapolda, Pak Kajati, Pak Pangdam, Pak Danrem, Manggala Agni, BNPB, BPBD, MPA, dan tentu partisipasi masyarakat,” kata Raja Juli Antoni di Palembang, Sumatera Selatan.
Target pemerintah tidak sekadar menurunkan jumlah hotspot, tetapi juga menghapus keberadaan titik api (fire spot) secara menyeluruh hingga mencapai zero fire.
Kewaspadaan Hadapi Ancaman El Nino hingga November
Meski kondisi di sejumlah daerah rawan mulai membaik, Menhut mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya reda. Berdasarkan data dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi risiko masih mengintai.
Beberapa poin krusial yang perlu diantisipasi meliputi:
-
Prediksi Cuaca Ekstrem: Fenomena El Nino diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November.
-
Risiko Kekeringan: Kondisi cuaca kering mempertinggi risiko munculnya gesekan titik api baru di lahan gambut maupun hutan.
-
Kesiapsiagaan: Kesiapan personel dan peralatan harus dipertahankan secara optimal sampai periode hujan alami mulai merata.
Imbauan Tegas: Dilarang Membakar Lahan!
Guna mencegah munculnya pemicu baru di tengah kondisi cuaca yang masih berisiko, Menhut Raja Juli Antoni mengeluarkan imbauan tegas kepada para pelaku usaha maupun warga lokal.
Ia meminta secara khusus kepada masyarakat dan korporasi agar tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara dibakar. Langkah pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dan efisien ketimbang penanggulangan saat api sudah membesar.
Dengan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat dan komitmen tegas dari pihak swasta, pemerintah optimistis dampak buruk karhutla—seperti kabut asap dan kerusakan ekosistem—dapat dicegah secara maksimal. (*/tur)