← Kembali ke https://kalteng.co/

Dianggap Feodal oleh Netizen, Ini Makna Asli Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran di Tabalong

https://kalteng.co/ • 17 September 2026 05:01
Dianggap Feodal oleh Netizen, Ini Makna Asli Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran di Tabalong

KALTENG.CO-Sebuah potongan video memperlihatkan momen unik sekaligus kontroversial dalam acara peringatan Maulid Nabi di Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Dalam video yang mendadak tular di media sosial tersebut, terlihat deretan istri pejabat setempat yang sedang menyantap hidangan, sembari dikipasi secara manual menggunakan tepas (kipas bambu/tangan) oleh orang lain.

Sontak, aksi tersebut memancing gelombang kritik dari para pengguna internet. Di era modern saat kipas angin listrik hingga pendingin ruangan mudah dijangkau, banyak netizen memandang praktik ini berlebihan dan terkesan feodal. Namun, di balik riuhnya komentar miring tersebut, terdapat latar belakang kebudayaan lokal yang dikenal sebagai Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran.

Momen Maulid Nabi yang Memantik Perdebatan

Dalam prosesi acara, para tamu duduk melingkar menyantap hidangan bersama dari satu wadah besar yang disebut talam. Di sisi mereka, beberapa petugas berdiri telaten mengayunkan kipas tangan untuk menjaga kenyamanan para tamu yang sedang makan.

Sayangnya, pemandangan ini ditanggapi dingin oleh sebagian besar warganet yang tidak mengenal latar budaya setempat. Gelombang komentar pedas pun membanjiri media sosial:

Kritik publik umumnya menyoroti keterkaitan aksi tersebut dengan simbol status sosial dan feodalisme yang dinilai tak lagi relevan di zaman sekarang.

Makna Budaya: Antara Adab Kehormatan dan Tradisi Lokal

Di balik tuduhan feodalisme, masyarakat lokal dan netizen yang memahami konteks kebudayaan Banjar memberikan sudut pandang berbeda. Praktik ini bukanlah bentuk kesewenang-wenangan status, melainkan bagian integral dari Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran.

Makan Batalam merupakan tradisi kebersamaan masyarakat Banjar saat merayakan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi. Makan bersama dalam satu talam melambangkan kesetaraan, keakraban, dan rasa syukur.

Sementara itu, tindakan mengipasi tamu (bekipas) memiliki makna simbolis tersendiri:

  1. Bentuk Penghormatan (Adab): Dalam tata krama lokal, memuliakan tamu—terutama tokoh masyarakat, sesepuh, atau tamu undangan—adalah kewajiban tuan rumah.

  2. Pelayanan Maksimal: Mengipasi tamu saat makan hidangan hangat merupakan bentuk apresiasi dan upaya memberikan kenyamanan terbaik selama prosesi adat berlangsung.

  3. Pelestarian Nilai Tradisional: Penggunaan tepas mempertahankan unsur keaslian (autentisitas) tradisi leluhur yang sudah berjalan secara turun-temurun.

Perbenturan Perspektif: Adat Lokal vs Kesetaraan Modern

Gegernya fenomena ini memperlihatkan adanya jurang pemisah antara nilai-nilai tradisi daerah dan sudut pandang masyarakat digital modern:

Sudut Pandang Pandangan Publik Modern Pandangan Adat & Budaya
Fungsi Alat Menganggap penggunaan tepas tidak efisien dibanding kipas angin/AC. Menjaga estetika dan keaslian nilai-nilai kearifan lokal.
Simbol Sosial Dinilai sebagai bentuk feodalisme dan pembagian kelas sosial. Dipandang sebagai adab, etika kesantunan, dan penghormatan kepada tamu.
Pendekatan Berbasis kepraktisan dan kesetaraan sosial (egaliter). Berbasis pelestarian warisan budaya dan kebiasaan setempat.

Perdebatan mengenai tradisi di Banua Lawas ini menjadi pengingat pentingnya memahami konteks kebudayaan sebelum menilai suatu fenomena di media sosial. Meski kemajuan teknologi menawarkan kepraktisan, bagi sebagian masyarakat, nilai sebuah tradisi terletak pada proses dan adab yang terus dijaga kelestariannya. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli