← Kembali ke https://kalteng.co/

Ancaman Asap Karhutla Kembali Intai Palangka Raya: Meski Hotspot Turun, Kabut Asap Pekat Ancam Kesehatan dan Penerbangan

https://kalteng.co/ • 28 September 2026 04:16
Ancaman Asap Karhutla Kembali Intai Palangka Raya: Meski Hotspot Turun, Kabut Asap Pekat Ancam Kesehatan dan Penerbangan

KALTENG.CO-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui wilayah Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya. Meskipun data mencatatkan penurunan jumlah titik panas (hotspot) secara kuantitatif di tingkat provinsi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dampak kabut asap justru berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.

Kondisi geografis Palangka Raya yang dikelilingi oleh bentangan lahan gambut luas membuat wilayah ini sangat rentan terhadap kepungan asap tebal saat musim kemarau tiba.

Dampak Ekstrem di Palangka Raya: Jarak Pandang Anjlok hingga 0,6 Kilometer

Kondisi udara di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan kualitas yang drastis. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), paparan asap pekat akibat karhutla memicu penurunan jarak pandang (visibility) yang tergolong ekstrem di ibu kota Kalimantan Tengah ini.

Pada waktu dini hari, jarak pandang di Palangka Raya sempat anjlok hingga menyentuh angka 0,6 kilometer (600 meter). Angka ini merupakan yang terburuk jika dibandingkan dengan wilayah terdampak lainnya di Indonesia, seperti:

Penurunan jarak pandang yang signifikan ini tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi darat warga Kota Cantik, tetapi juga mengancam keselamatan dan jadwal penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.

Lonjakan Hotspot Nasional dan Dinamika Lahan Gambut Kalteng

Secara nasional, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat kenaikan signifikan jumlah titik panas. Hingga Sabtu (26/9) malam, terdeteksi sebanyak 331 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), melonjak tajam dari 213 titik pada hari sebelumnya.

Kenaikan harian ini langsung direspons cepat oleh pemerintah. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa lonjakan tersebut menjadi alarm untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan.

“Peningkatan hotspot harian menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat verifikasi serta respons lapangan, terutama pada wilayah yang menunjukkan kenaikan,” ujar Ristianto, Minggu (27/9/2026).

Mengapa Asap Tetap Pekat di Palangka Raya Meski Hotspot Menurun?

Di Kalimantan Tengah, jumlah titik panas tercatat mengalami penurunan dari 57 titik menjadi 30 titik. Berbeda dengan Kalimantan Selatan yang melambung drastis dari 6 menjadi 40 titik, atau Sumatera Selatan dari 17 menjadi 38 titik.

Namun, penurunan angka titik panas di Kalteng tidak serta-merta menghilangkan pekatnya asap di Palangka Raya. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama:

  1. Karakteristik Lahan Gambut: Karhutla di sekitar wilayah Palangka Raya didominasi oleh lahan gambut. Karakteristik gambut menyimpan bara api di bawah permukaan tanah (subsurface fire). Meski permukaan tampak padam atau tidak terdeteksi oleh satelit sebagai anomali suhu tinggi, bara di bawah tanah terus membara dan menghasilkan asap pekat yang terdorong angin menuju pusat kota.

  2. Indikasi Satelit vs Realita Lapangan: Satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mendeteksi anomali suhu permukaan. Ristianto menjelaskan bahwa satu titik kebakaran di lapangan bisa terdeteksi sebagai beberapa hotspot atau sebaliknya, sehingga angka hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah luas area terbakar.

Penanganan Masif: 61 Armada Udara dan Tim Darat Gabungan

Menghadapi ancaman yang kian membesar, pemerintah menaruh perhatian khusus pada pembasahan dan pemadaman area gambut. Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan di seluruh Indonesia, di mana 55 unit di antaranya dikonsentrasikan di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, termasuk Kalimantan Tengah.

Di jalur darat, Satgas Gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BPBD Kalteng, relawan, masyarakat peduli api, hingga sektor swasta terus melakukan penyekatan penjalaran api, groundcheck, mopping up, hingga pembasahan berkelanjutan (wetting) guna memastikan api benar-benar padam hingga ke dasar gambut.

Himbauan Kesehatan dan Kedaruratan Satwa Liar

Melihat kondisi kualitas udara yang memburuk di Palangka Raya dan sekitarnya, Kemenhut dan dinas terkait mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi:

Masyarakat diimbau tidak menangani atau menangkap satwa liar secara mandiri demi keselamatan. Jika menemukan satwa liar yang masuk ke lingkungan pemukiman, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah atau pihak berwenang setempat. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli