PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Sidang adat terkait aksi gimmick celana dalam yang terjadi saat penampilan band R.A.S.Y.A di salah satu acara amal karhutla di Palangka Raya, Jumat (25/9/2026), mendapat apresiasi dari Ketua Pemuda Pancasila Kota Palangka Raya, Bush Valentino.
Menurut Bush, penyelesaian melalui mekanisme adat tersebut menunjukkan bahwa filosofi Huma Betang masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.
“Luar biasa sidang adat hari ini. Artinya, kelihatan sekali bahwa filosofi Huma Betang itu memang benar-benar ada di Kalimantan Tengah,” kata Bush.
Ia menilai proses tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan besaran sanksi adat yang dijatuhkan. Lebih dari itu, menurutnya, terdapat pesan mengenai keberadaan aturan dan nilai moral yang harus dihormati setiap orang ketika berada di suatu wilayah.
“Berapa pun nilainya, sebenarnya bukan hanya persoalan uang, tetapi bagaimana kita melihat bahwa ada adat dan ada aturan di satu wilayah,” ujarnya.
Bush juga mengingatkan agar kejadian serupa menjadi pembelajaran bagi pihak yang terlibat dalam kegiatan seni maupun penyelenggaraan acara di Palangka Raya. Ia menekankan pentingnya menghormati norma yang berlaku di daerah.
“Mudah-mudahan Ain Koto dan teman-temannya, serta penyelenggara, bisa melihat ke depan. Jangan asal dalam melakukan tindakan,” tegasnya.
Ia mengatakan keberagaman budaya tetap terbuka di Kalimantan Tengah. Namun, menurut Bush, masuknya budaya dari luar tetap harus disertai pemahaman terhadap nilai dan norma yang berlaku di daerah setempat.
“Budaya luar itu boleh masuk di Kalimantan Tengah. Sangat boleh. Kenapa? Karena itulah kultur keanekaragaman kita. Namun, di satu wilayah mana pun, kita juga harus melihat bagaimana keanekaragamannya. Jangan kita asal,” tuturnya.
Bush kemudian menyinggung pentingnya nilai belum bahadat atau sikap beradab dalam kehidupan masyarakat Dayak. Ia juga menyebut prinsip Isen Mulang sebagai bagian dari nilai yang dipegang masyarakat Dayak, namun penyelesaian persoalan tetap dapat ditempuh melalui mekanisme yang telah tersedia, termasuk hukum adat.
“Di sini jelas nilai moral yang kita utamakan adalah belum bahadat. Dan saya juga sebagai orang Dayak, kami Isen Mulang. Kita tidak akan pernah mundur. Namun, kita juga melihat bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan. Yaitu tadi, ada hukum adat,” katanya.
Lebih lanjut, Bush berharap pemerintah daerah memperhatikan aspek perizinan dalam penyelenggaraan pentas seni atau kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Menurutnya, persoalan perizinan perlu menjadi perhatian agar kegiatan serupa ke depan dapat berjalan lebih tertib.
“Bagaimanapun, ada pentas seni itu harus ada izinnya. Jelas. Apalagi ini untuk karhutla yang sedang luar biasa kita hadapi. Jadi, ada izin kepolisian, ada izin adat, ada izin RT,” pungkasnya. (oiq)