PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat semakin menjadi tantangan dalam penanganan di lapangan.
Asap yang tebal tidak hanya mengganggu aktivitas penerbangan komersial, tetapi juga membatasi operasi udara untuk pemadaman.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan, kondisi tersebut saat memberikan paparan mengenai penanganan karhutla di Indonesia kepada Presiden RI.
Menurutnya, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalteng dan Kalbar belum dapat berjalan maksimal.
“Karena OMC di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat tidak dapat dilaksanakan secara maksimal sehingga mengakibatkan di dua lokasi itu asapnya cukup tebal, Pak Presiden,” katanya dalam paparannya.
Tebalnya asap kemudian berdampak pada aktivitas penerbangan dan operasi udara yang digunakan untuk mendukung penanganan karhutla. Kondisi jarak pandang menjadi salah satu tantangan bagi pengerahan armada udara, termasuk operasi water bombing.
“Ini juga mengganggu penerbangan komersil, kemudian operasi udara dan water bombing,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut aktivitas masyarakat secara umum masih berjalan dan pemerintah berupaya menjaga agar roda kehidupan tetap normal di tengah kondisi kabut asap.
Pemerintah tetap berupaya memastikan penanganan di lapangan berjalan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan.
“Kami juga memastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Lalu lintas, toko-toko, rumah makan dan lain sebagainya tidak ada yang terganggu. Hanya memang untuk keluar masuk khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini yang sedikit terganggu,” pungkasnya. (oiq)