PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Ain Nsriko alias Ain Koto menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan resmi atas tindakan spontan yang dilakukannya saat gelaran Noise Fest Gigs di Palangka Raya. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Ain Koto pada Selasa (22/9/2026).
Hal ini menyusul aksinya menyawer Natasha dari Grup Musuk RASYA BAND dengan celana dalam (CD) wanita saat konser amal Karhutla di Bundaran Besar.
Dalam pernyataan resminya, Ain Koto meminta maaf kepada vokalis Natasha, grup musik RASYA BAND, serta seluruh masyarakat Palangka Raya dan Kalimantan Tengah atas kegaduhan yang dipicu oleh aksinya.
“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Natasha dan RASYA BAND atas perbuatan yang saya lakukan di Noise Fest Gigs, serta kepada seluruh masyarakat Palangka Raya, khususnya Kalimantan Tengah,” ujar Ain Koto dalam permohonan maaf resminya, Selasa (22/9/2026).
Tegaskan Tidak Ada Unsur Kesengajaan dan Pelecehan
Ain Koto menjelaskan bahwa tindakan yang ia lakukan di panggung acara musik tersebut murni terjadi secara spontan. Ia menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk melakukan pelecehan, merendahkan martabat perempuan, maupun merusak citra kesenian dan warga setempat.
“Kejadian tersebut saya lakukan secara spontan, tanpa ada kesengajaan untuk menjatuhkan harkat dan martabat wanita, kesenian, maupun masyarakat Kalimantan Tengah. Tidak ada maksud untuk melakukan pelecehan apa pun,” tegasnya.
Berjanji Tidak Mengulangi Kesalahan
Menanggapi sorotan publik pasca-kejadian tersebut, Ain Koto berkomitmen untuk mengevaluasi diri dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang.
Ia berharap permohonan maaf yang disampaikannya dapat diterima oleh pihak-pihak yang dirugikan serta masyarakat luas.
“Saya menyatakan untuk ke depannya tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Sekali lagi saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, dan atas maaf yang diberikan saya ucapkan terima kasih,” tutup Ain Koto.
Seperti diketahui, gelaran konser musik penggalangan dana untuk korban Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah yang seharusnya menjadi ajang solidaritas kemanusiaan mendadak diwarnai aksi dugaan pelecehan seksual.