?PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Penundaan Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XIII Kalimantan Tengah (Kalteng) 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat dinilai tidak seharusnya hanya dilihat sebagai perubahan jadwal pertandingan.
?
?Penundaan tersebut justru dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah pembinaan olahraga Kalteng, terutama dalam meningkatkan prestasi atlet dan mempersiapkan mereka menghadapi ajang olahraga tingkat nasional.
?
?Pandangan itu disampaikan Ketua Umum Pengprov Perbakin Kalteng sekaligus mantan Plt Ketua Umum KONI Kalteng, Christian Sancho, menyikapi penundaan PORPROV XIII yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 2–12 Oktober 2026.
?
?Penundaan tersebut tertuang dalam surat KONI Provinsi Kalteng Nomor 078/KONI-KTG/IX/2026 tertanggal 21 September 2026. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalteng.
?
?Keputusan tersebut juga disebut merupakan hasil pertemuan KONI Kalteng bersama Gubernur Kalteng pada 17 September 2026.
?
?Christian menilai kondisi karhutla memang perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu pelaksanaan PORPROV. Namun, menurutnya, penundaan tersebut juga perlu dilihat dari sisi yang lebih luas, terutama terkait arah pembinaan dan target prestasi olahraga daerah.
?
?“Selain mempertimbangkan kondisi bencana karhutla yang terjadi di Kalimantan Tengah, pemerintah daerah juga perlu melihat penyelenggaraan PORPROV dari sisi pembinaan dan prestasi olahraga,” ujar Christian, Senin (21/9/2026).
?
?Menurutnya, PORPROV tidak seharusnya hanya menjadi ajang pertandingan antarkabupaten dan kota. Lebih dari itu, PORPROV harus menjadi bagian dari sistem pembinaan atlet yang memiliki target, ukuran keberhasilan, dan tindak lanjut yang jelas.
?
?Christian menilai atlet yang tampil di PORPROV seharusnya sudah mulai dipetakan sejak awal untuk menjadi bagian dari program pembinaan menuju kompetisi tingkat nasional.
?
?“PORPROV harus menjadi bagian dari proses pembinaan atlet menuju persiapan menghadapi PON mendatang. Jangan hanya menjadi ajang pertandingan atau kegiatan olahraga semata, tetapi harus mampu menjadi wadah untuk mempersiapkan atlet-atlet potensial Kalteng agar benar-benar siap bersaing di tingkat nasional,” katanya.
?
?Menurut Christian, arah pembinaan tersebut penting karena PON XXII 2028 akan digelar di NTB, NTT, dan DKI Jakarta. Karena itu, pembinaan atlet harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak baru dimulai ketika pelaksanaan PON semakin dekat.
?
?Ia juga menilai capaian kontingen Kalteng pada PON XXI 2024 di Aceh dan Sumatera Utara yang belum menghasilkan prestasi perlu menjadi bahan evaluasi. Hasil tersebut, menurutnya, dapat dijadikan salah satu tolok ukur dalam menyusun strategi pembinaan olahraga Kalteng ke depan.
?
?Evaluasi, kata dia, tidak cukup dilakukan setelah PORPROV atau PON selesai. Sistem pembinaan atlet, proses seleksi, kualitas kompetisi, dukungan anggaran, hingga kesiapan masing-masing cabang olahraga perlu dilihat secara menyeluruh.
?
?“Jangan sampai penyelenggaraan olahraga hanya menjadi kegiatan yang ramai dan menghabiskan anggaran, tetapi tidak menghasilkan prestasi. Apalagi kondisi anggaran daerah saat ini juga mengalami banyak penyesuaian, terlebih setelah menghadapi bencana karhutla,” ujarnya.
?
?Karena itu, Christian menekankan pentingnya memastikan setiap anggaran olahraga digunakan untuk program yang benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas atlet dan pencapaian prestasi.
?
?“Setiap anggaran yang dialokasikan untuk olahraga harus benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan prestasi,” tegasnya.
?
?Christian berharap PORPROV tidak berhenti pada perebutan medali antarkabupaten dan kota. Menurutnya, ajang tersebut juga harus menjadi sarana untuk menilai dan memetakan atlet potensial dari seluruh wilayah Kalteng.
?
?Hasil pemetaan itu nantinya dapat menjadi salah satu dasar untuk menentukan atlet yang akan diproyeksikan mengikuti pembinaan menuju PON.
?
?“Jadi, setelah PORPROV harus jelas siapa atlet yang berpotensi untuk dibina lebih lanjut. Jangan sampai setelah pertandingan selesai, data dan hasilnya tidak ditindaklanjuti,” ujarnya.
?
?Dalam hal tersebut, Christian juga menyoroti proses verifikasi cabang olahraga. Menurutnya, setiap cabang olahraga yang memiliki potensi prestasi perlu dinilai secara objektif berdasarkan rekam jejak, kesiapan organisasi, atlet, sarana pendukung, serta kelengkapan administrasi.
?
?Ia mencontohkan cabang olahraga menembak yang menurutnya memiliki potensi dan fasilitas pendukung di Kotawaringin Barat.
?
?“Setahu saya sudah ada caretaker yang menjalankan fungsi kepengurusan di daerah tersebut. Bahkan, di sana juga telah tersedia lapangan tembak yang dibangun oleh pengurus sebelumnya. Karena itu, alasan-alasan administratif seperti ini sebaiknya dapat dikaji dan diverifikasi kembali secara objektif,” katanya.
?
?Christian juga mengingatkan agar pembinaan dan pengelolaan olahraga tetap berorientasi pada peningkatan prestasi serta kemajuan olahraga daerah.
?
?“Jangan sampai olahraga justru menjadi ruang untuk kepentingan politik atau kepentingan segelintir orang maupun kelompok. Yang harus menjadi dasar utama adalah pembinaan, prestasi, serta kepentingan olahraga Kalimantan Tengah secara keseluruhan,” tegasnya.
?
?Menurutnya, pemerintah daerah bersama KONI dan seluruh cabang olahraga perlu membangun sistem pembinaan yang lebih terukur, transparan, dan berkelanjutan.
?
?Penundaan PORPROV, kata Christian, dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi berbagai hal yang masih perlu diperbaiki. Selain itu, waktu yang tersedia juga dapat digunakan untuk mematangkan persiapan penyelenggaraan sekaligus pembinaan atlet.
?
?Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap tata kelola olahraga. Perhatian tersebut, menurutnya, tidak hanya pada penyelenggaraan event, tetapi juga mencakup pembinaan atlet dan penguatan organisasi olahraga di tingkat provinsi.
?
?“PORPROV harus benar-benar diarahkan menjadi bagian dari sistem pembinaan prestasi. Sehingga atlet-atlet Kalteng yang tampil di ajang tersebut tidak hanya bertanding, tetapi juga dipersiapkan secara serius untuk membawa nama Kalimantan Tengah pada PON mendatang,” pungkas Christian Sancho. (pra)