KALTENG.CO-Aktris dan influencer Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka usai konten videonya mengenai mindfulness dan panduan menghadapi berita buruk menuai kritik tajam di media sosial.
Permintaan maaf tersebut diunggah langsung melalui keterangan tertulis di akun Instagram pribadinya. Maudy mengaku telah meluangkan waktu untuk mendengarkan publik, merenung, serta berusaha memahami berbagai sudut pandang yang berkembang.
Mengakui Pernyataan Terasa Jauh dari Realitas Masyarakat
Dalam unggahannya, Maudy tidak menampik bahwa konten yang dibagikannya telah melukai dan memicu kekecewaan publik. Ia menyampaikan permohonan maaf dari lubuk hati yang paling dalam atas ketidakpekaan tersebut.
“Beberapa waktu terakhir, aku mengambil waktu untuk mendengar, merefleksikan kembali apa yang aku sampaikan, dan memahami berbagai respons yang muncul setelahnya. Aku menyadari bahwa apa yang aku sampaikan telah menyebabkan kekecewaan dan kemarahan. Aku minta maaf,” tulis Maudy.
Ia menyadari adanya kelalaian dalam mempertimbangkan konteks sosial dan pengalaman hidup masyarakat luas saat membagikan caranya mengelola paparan berita negatif. Menurutnya, hal itulah yang membuat pesannya terkesan berjarak dari kenyataan di lapangan.
Kesadaran akan Privilese dan Komitmen untuk Belajar
Maudy mengevaluasi posisi dan tanggung jawabnya sebagai seorang figur publik yang memiliki pengaruh besar. Ia mengakui bahwa akses, ruang bersuara, dan privilese yang melekat padanya menuntut kepekaan yang jauh lebih tinggi.
-
Pentingnya Empati: Maudy menegaskan keinginannya untuk lebih banyak mendengar dan membuka diri terhadap perspektif lain di luar pengalaman pribadinya.
-
Tanggung Jawab Publik: Ia berkomitmen untuk menggunakan platform digitalnya secara lebih bijak dan bertanggung jawab ke depannya.
Awal Muasal Kontroversi: Konsep “Diet Berita”
Gelombang kritik ini bermula dari video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026. Di dalam konten tersebut, ia membagikan strategi pribadi dalam membatasi asupan informasi, menyeleksi sumber bacaan, serta memilih kawan diskusi guna menjaga kesehatan mental.
Namun, gagasan mengenai “diet berita” ini dinilai tidak relevan bagi mayoritas masyarakat. Banyak warganet menilai bahwa membatasi diri dari berita buruk adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dilakukan oleh kelompok bermodal privilese.
Sebelum menyampaikan permohonan maaf tertulis ini, Maudy sempat menyematkan komentar klarifikasi pada video terkait. Ia mengamini bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memalingkan wajah dari berita buruk, terutama bagi mereka yang hidupnya terdampak langsung oleh isu-isu tersebut. (*/tur)