← Kembali ke https://kalteng.co/

Ketika Ayah dan Ibu Tak Lagi di Sisi, Sapariyadi Tetap Berjuang Menjadi Prajurit TNI

https://kalteng.co/ • 30 September 2026 17:57
Ketika Ayah dan Ibu Tak Lagi di Sisi, Sapariyadi Tetap Berjuang Menjadi Prajurit TNI

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Tahun 2026 menjadi perjalanan yang tidak mudah bagi Mohamad Noor Sapariyadi. Di tengah perjuangannya mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI, pemuda asal Palangka Raya itu harus menghadapi kehilangan dua sosok paling penting dalam hidupnya. Ibunya berpulang pada Juni 2026. Belum sepenuhnya pulih dari duka tersebut, Sapariyadi kembali kehilangan sang ayah hanya dua bulan kemudian. Kepergian ayahnya terjadi sekitar sepekan sebelum dirinya berangkat mengikuti seleksi tingkat pusat pada 28 Agustus 2026.

Dalam situasi yang begitu berat, ia tetap memilih melanjutkan langkah dan menghadapi proses seleksi yang telah diperjuangkannya. Kehilangan kedua orang tua dalam waktu berdekatan tentu meninggalkan duka yang mendalam. Namun, bagi Sapariyadi, kesedihan tidak boleh membuat cita-cita berhenti.

Dukungan keluarga dari pihak ayah menjadi salah satu sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Ia berusaha menjalani proses tersebut dengan keteguhan hati, meski harus menghadapi perjalanan tanpa lagi didampingi kedua orang tuanya. “Tahun 2026 menguji ketabahan jiwa saya hingga batas terluar…Duka mendalam, menyerah bukanlah sebuah pilihan,” tutur Sapariyadi, Rabu (30/9/2026).

Bagi pemuda putra asli Dayak tersebut, menjadi prajurit TNI bukan sekadar keinginan yang muncul sesaat. Cita-cita itu telah tumbuh sejak lama dan kembali ia perjuangkan melalui kesempatan keduanya mendaftarkan diri sebagai calon prajurit. Ada alasan yang lebih dalam di balik tekad tersebut. Sapariyadi ingin menjadikan pengabdiannya sebagai bentuk penghormatan sekaligus meneruskan semangat kedua orang tuanya.

“Menjadi anggota tentara bukan sekadar impian masa kecil, melainkan kehormatan untuk meneruskan dedikasi orang tua. Di balik keberhasilan dan keteguhan ini, saya yakin ada bisikan doa ibu dan bapak yang kini terus memeluk serta menguatkan saya,” ungkapnya penuh haru.

Perjalanan Sapariyadi memperlihatkan bahwa kehilangan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Di tengah duka yang datang bertubi-tubi, ia justru berusaha menjadikan kenangan dan doa kedua orang tuanya sebagai kekuatan untuk terus melangkah.

Kini, cita-cita menjadi prajurit TNI tetap ia genggam. Setiap tahapan yang dijalani bukan hanya tentang mengejar masa depan untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi cara Sapariyadi menjaga harapan yang selama ini tumbuh bersama kedua orang tuanya.

Kisahnya menjadi gambaran tentang keteguhan seorang anak yang memilih tetap berjalan meski kehilangan tempat bersandar. Dengan dukungan keluarga dan tekad yang terus dijaga, Sapariyadi berusaha membuktikan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu ditempuh dalam keadaan mudah. (pra)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli