← Kembali ke https://kalteng.co/

Terinspirasi Didi Petet dan Guruh Soekarnoputra, Widi Mulia Bagikan Ilmu Lintas Generasi di Musikal ‘SIRENA’

https://kalteng.co/ • 30 September 2026 16:44
Terinspirasi Didi Petet dan Guruh Soekarnoputra, Widi Mulia Bagikan Ilmu Lintas Generasi di Musikal ‘SIRENA’

KALTENG.CO-Penyanyi sekaligus aktris senior Widi Mulia kembali menunjukkan taji panggungnya lewat pementasan drama musikal fantasi bertajuk SIRENA: Air Mata dari Lautan.

Dalam produksi spektakuler ini, Widi memboyong segudang pengalaman yang pernah ditimbanya dari dua maestro seni pertunjukan Indonesia, mendiang Didi Petet dan Guruh Soekarnoputra.

Bagi Widi, keterlibatannya kali ini tidak semata-mata menuntut ketangkasan berakting dan bernyanyi. Pertunjukan ini menjadi ajang regenerasi budaya untuk menularkan fondasi berkesenian kepada deretan talenta muda yang mendominasi jajaran pemeran.

“Ini jadi tantangan tersendiri buat aku. Aku mau kasih lihat kita bisa move forward together. Ini juga yang menjadi penyemangat setiap kali latihan,” ujar Widi Mulia saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (29/9/2026).

Kolaborasi Lintas Generasi di Atas Panggung

Dalam pementasan SIRENA: Air Mata dari Lautan, Widi Mulia dipercaya mengemban peran sebagai Ratu Kaia. Ia berbagi panggung dengan jajaran artis lintas generasi, seperti:

  • Rara Sudirman sebagai Sirena

  • Muhammad Fachad Haydra sebagai Anthony

  • Radhyna Azahra Putri sebagai Reina

  • Agus Wisman sebagai Raja Athar

  • Teuku Zacky sebagai Prof. Dharma

Tak hanya nama besar, produksi ini memberi ruang luas bagi seniman cilik dan muda, di antaranya Rasyad Aiman Agus (Leo), Firzanah Alya (Sirena kecil), Yoan Cocohamida (Anthony kecil), dan Loisa Ramadhani (Reina kecil).

Usung Pesan Empati dan Keterlibatan Anak Disabilitas

SIRENA: Air Mata dari Lautan dijadwalkan menghentak panggung Balai Sarbini, Jakarta, pada 9–10 Oktober 2026. Mengusung konsep musikal fantasi orisinal, karya ini memadukan aransemen musik, akting teatrikal, koreografi, tata artistik multimedia, serta kekayaan unsur kultur lokal Indonesia.

Garapan cerita ini membawa penonton menjelajahi konflik dua dunia—bawah laut dan daratan—melalui kisah anak yang mampu hidup di kedua alam tersebut. Alurnya menyuarakan pesan mendalam tentang keluarga, penerimaan, keberanian, persahabatan, hingga keselarasan hubungan manusia dengan alam.

Direktur Shine Era Entertainment, Mikhalouda, menegaskan pentingnya nilai empati dan saling melengkapi yang diusung dalam pementasan ini.

“Yang ingin kita tekankan di SIRENA adalah saling back up apabila ada kekurangan satu sama lain,” ungkap Mikhalouda.

Pesan inkusivitas tersebut dibuktikan lewat aksi nyata: keterlibatan 7 hingga 10 anak penyandang disabilitas sebagai pemusik utama dalam pementasan.

Langkah ini mendapat apresiasi hangat dari Fatma Saifullah Yusuf, istri Menteri Sosial RI. Menurutnya, inisiatif ini membuka ruang setara bagi penyandang disabilitas di industri kreatif tanah air.

“Saya sangat mengapresiasi, sangat bangga, dan terharu ketika mendengar ada sekitar 7-10 anak disabilitas pemain musik yang dilibatkan,” tutur Fatma.

Dorong Akses Seni Lewat 1.000 Kursi Anak Berprestasi

Proses persiapan pertunjukan ini terbilang matang. Tim produksi menggelar sekitar 28 kali sesi latihan intensif selama tiga bulan. Untuk mengatasi keterbatasan teknis Balai Sarbini yang bukan merupakan gedung teater khusus, tim menyiasatinya dengan integrasi multimedia dan tata visual modern guna menghidupkan suasana bawah laut secara dramatis.

Lebih dari sekadar hiburan panggung, pementasan SIRENA turut meluncurkan gerakan sosial bertajuk Program 1.000 Kursi Anak Berprestasi. Program ini mengundang anak-anak dari pelbagai latar belakang—termasuk penyandang disabilitas, anak yatim, siswa berprestasi dari keluarga prasejahtera, hingga siswa sekolah rakyat—untuk menikmati keindahan seni pertunjukan secara langsung.

Widi Mulia berharap ajang ini dapat memantik imajinasi serta keberanian anak muda Indonesia untuk terus bermimpi.

“Buka seluas-luasnya akses untuk mengenyam, menyerap pendidikan, bermimpi, dan berimajinasi,” pungkas Widi. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli