PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Besar. Jumlah pembeli berkurang, omzet pedagang turun, sementara harga sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan.
Husnul, pedagang buah di Pasar Besar, mengaku omzetnya turun cukup drastis. Jika sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta sehari, kini pendapatannya hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.
“Biasanya sampai Rp2 juta paling ramai. Sekarang paling banyak Rp500 ribu, kadang sekitar Rp500 sampai Rp700 ribu saja,” ujarnya, Selasa (29/9).
Penurunan tersebut dirasakan hampir dua bulan terakhir. Kondisi udara yang dipenuhi asap juga membuat Husnul mengurangi waktu berjualan. Jika biasanya berjualan sejak pagi hingga sore, kini ia pulang sekitar pukul 11.00 WIB dan kembali ke pasar pada sore hari.
Di tengah menurunnya pembeli, harga barang dari pemasok juga mengalami kenaikan. Namun, Husnul mengaku tetap berusaha mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak semakin berkurang.
Kondisi serupa dirasakan Linda, pedagang ayam potong. Menurutnya, jumlah pembeli menurun, sementara harga ayam naik dari sekitar Rp35 ribu menjadi Rp39 ribu per kilogram.
“Pembelinya berkurang, jadi pendapatan pun ikut turun,” katanya.
Linda tetap berjualan meski kabut asap menyelimuti kawasan pasar. Ia biasanya sudah berada di pasar sejak tengah malam untuk menyiapkan dagangan hingga pagi.
“Mau kabut asap, hujan, kami tetap jualan. Kalau tidak jualan, mau makan apa kami nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Supiah, pedagang sayur, mengaku tidak hanya menghadapi penurunan pembeli, tetapi juga risiko dagangan tidak habis terjual. Sayuran yang tersisa harus dibawa pulang, padahal daya tahannya terbatas.
“Sekarang sejak ada kabut asap mulai berkurang, jadi kadang sayuran yang dibawa tidak habis terjual dan harus dibawa pulang lagi,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah harga komoditas mengalami kenaikan. Harga cabai yang sebelumnya sekitar Rp80 ribu per kilogram kini mencapai Rp110 ribu. Tomat juga naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Bagi para pedagang, kabut asap kini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan mereka. Supiah berharap kondisi kabut asap segera berakhir sehingga aktivitas perdagangan dapat kembali normal.
“Bukan cuma mengganggu pernapasan, kabut asap ini juga berdampak ke jualan. Pembeli berkurang, jadi dagangan tidak seramai biasanya,” pungkasnya.(aza)