PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kabut asap pekat kembali mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), Selasa (29/9). Jarak pandang di Palangka Raya bahkan turun hingga 300 meter, sementara kualitas udara masuk kategori berbahaya.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Ihsan, mengatakan jarak pandang di Palangka Raya pada pukul 10.00 WIB hanya sekitar 300 meter.
“Pada pukul 10.00 WIB, terpantau jarak pandangnya 300 meter,” ujar Ihsan.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Jarak pandang di Pangkalan Bun tercatat 1.400 meter, Sampit 800 meter, Sanggu-Puntok 1.000 meter, serta Beringin-Muara Teweh 300 meter.
Menurut Ihsan, kondisi tersebut berdampak terhadap operasional penerbangan. Jarak pandang yang rendah dapat menyebabkan proses lepas landas maupun pendaratan harus disesuaikan dengan kondisi keselamatan penerbangan.
Selain jarak pandang, kualitas udara Palangka Raya juga berada pada level berbahaya. Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 pada pukul 09.00 WIB mencapai 542,6 mikrogram per meter kubik.
Sementara di Pangkalan Bun, konsentrasi PM2.5 tercatat 63,7 mikrogram per meter kubik dan berada dalam kategori tidak sehat.
BMKG juga memantau sebaran asap melalui citra satelit. Pada pagi hari, asap terdeteksi hampir di sebagian besar wilayah Kalteng dan bergerak menuju barat laut hingga utara. Untuk mengetahui sumber asap secara lebih rinci, diperlukan analisis titik panas serta arah pergerakan angin.
Penumpang Terdampak
Kabut asap juga berdampak terhadap perjalanan sejumlah penumpang. Salah satunya Simeon Munte, 28, yang harus menunggu di Bandara Tjilik Riwut selama dua hari akibat perubahan jadwal penerbangan.
Simeon seharusnya terbang dari Palangka Raya menuju Jakarta pada Senin (28/9) pukul 13.15 WIB sebelum melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru. Namun, jadwal penerbangannya beberapa kali mengalami perubahan.
“Sudah dua hari bermalam di sini,” kata Simeon.
Selama menunggu kepastian keberangkatan, Simeon mengaku mengeluarkan biaya tambahan hampir Rp300 ribu untuk kebutuhan makan. Ia berharap informasi mengenai kondisi penerbangan dapat disampaikan secara lebih jelas kepada calon penumpang.
Sementara itu, General Manager Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan kondisi visibility di kawasan bandara terus dipantau. Pada pukul 05.00 waktu setempat, jarak pandang masih sekitar 2.000 meter, kemudian menurun menjadi 400 meter pada pukul 09.30.
Menurut I Made, pelaksanaan penerbangan tetap menyesuaikan kondisi visibility dan perkembangan situasi di lapangan. Maskapai bersama pilot akan menentukan penyesuaian waktu keberangkatan maupun kedatangan apabila jarak pandang belum memenuhi persyaratan operasional.
Pihak bandara juga terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia, maskapai, dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama.(aza)