PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap kesehatan masyarakat Kota Palangka Raya. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 10.240 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Juni hingga awal Oktober 2026.
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, kasus ISPA tercatat 1.849 kasus pada Juni, kemudian meningkat menjadi 2.293 kasus pada Juli dan melonjak menjadi 3.104 kasus pada Agustus.
Memasuki September, kasus mulai menurun menjadi 2.900 kasus. Sementara pada awal Oktober, tercatat tambahan sekitar 190 kasus.
“September 2.900 kasus, kemudian Oktober 190 kasus. Totalnya 10.240 kasus,” kata Riduan, Minggu (4/10).
Menurutnya, kasus ISPA tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu. Hampir seluruh kelompok umur berpotensi terdampak akibat memburuknya kualitas udara.
“Artinya tidak hanya kena pada umur tertentu, tapi hampir semua usia bisa kena ISPA,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemko Palangka Raya bersama Dinkes menyiagakan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), hingga fasilitas kesehatan lainnya.
Sejumlah Rumah Oksigen juga disiapkan untuk memberikan pelayanan selama 24 jam apabila kondisi membutuhkan penanganan lebih cepat.
“Totalnya sampai kemarin ada 47 Rumah Oksigen yang tersebar di Kota Palangka Raya,” jelas Riduan.
Dalam pelayanan tersebut, Dinkes juga melibatkan mahasiswa semester akhir melalui kerja sama dengan Universitas Eka Harap untuk membantu tenaga kesehatan di sejumlah fasilitas.
Riduan menyebut jumlah Rumah Oksigen masih dapat ditambah menyesuaikan perkembangan cuaca dan kualitas udara.
“Kalau memang cuaca bertambah jelek, insyaallah kita perluas,” katanya.
Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, seperti sesak napas, batuk berkepanjangan maupun keluhan kesehatan lainnya.
“Kalau sakit cepat-cepat berobat. Puskesmas membantu,” tegasnya.
Riduan menjelaskan, gangguan sesak napas juga dapat diperburuk oleh penyakit penyerta, salah satunya asma. Kondisi udara yang buruk akibat kabut asap dapat memperparah gangguan tersebut sehingga membutuhkan penanganan medis.
Selain menyiagakan Rumah Oksigen, Dinkes terus membagikan masker kepada masyarakat dan berbagai kelompok yang membutuhkan. Permintaan masker datang dari organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, sekolah, perguruan tinggi hingga perkantoran.
Dalam satu kali permintaan, Dinkes dapat menyalurkan sekitar 10 hingga 20 kotak masker. Dinkes juga mulai menyiapkan vitamin sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat selama kondisi kabut asap.
“Sebagian kita sertai vitamin. Insyaallah, ada beberapa waktu ke depan kita juga menyiapkan vitamin dengan masker,” ujar Riduan.
Dinkes memastikan ketersediaan obat untuk menangani masyarakat terdampak gangguan pernapasan tetap aman. Pengadaan obat dirancang untuk memenuhi kebutuhan hingga 18 bulan, sehingga terdapat cadangan sekitar enam bulan untuk menghadapi kondisi darurat.
Stok tersebut mencakup obat-obatan untuk penanganan ISPA, vitamin serta kebutuhan kesehatan lainnya.
“Insyaallah tercukupi. Kemudian didukung oleh BTT karhutla, insyaallah tercukup,” katanya.
Meski jumlah kasus ISPA telah mencapai lebih dari 10 ribu kasus, Dinkes Kota Palangka Raya memastikan hingga kini belum menerima laporan kematian yang berkaitan langsung dengan kondisi kabut asap.(aza)