KALTENG.CO-Industri penerbitan Jepang tengah diguncang isu pelanggaran hak cipta skala besar. Salah satu distributor buku terbesar di Jepang, Nippan Group Holdings Inc., mengonfirmasi telah menjual buku dalam jumlah besar kepada Anthropic, perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) asal Amerika Serikat.
Langkah ini memicu gelombang kekhawatiran dan protes keras dari para penulis serta penerbit lokal di Negeri Sakura.
Transaksi Rahasia Berdurasi Satu Tahun
Pengakuan ini mengemuka setelah Nippan Group Holdings membalas surat klarifikasi dari Japan Book Publishers Association. Dalam tanggapannya, pihak Nippan membenarkan bahwa anak perusahaannya telah menyalurkan buku-buku dalam jumlah fantastis ke Anthropic selama rentang waktu satu tahun, terhitung sejak Desember 2024.
Kasus ini mulai terkuak ke publik seusai dokumen pengadilan terkait gugatan hak cipta di AS membocorkan jejak komunikasi antara Anthropic dan “Nippan Japan”. Mengetahui hal tersebut, asosiasi penerbit langsung melayangkan surat resmi pada 17 September untuk menuntut transparansi distributor.
Beberapa poin utama yang dipertanyakan oleh asosiasi mencakup:
-
Kepastian apakah daftar buku yang dijual melibatkan karya-karya terbitan anggota asosiasi.
-
Keabsahan tindakan distributor yang menjual buku dalam jumlah masif ke pihak asing tanpa mengantongi izin penerbit asal.
-
Langkah perlindungan hak cipta yang diabaikan dalam rantai distribusi tersebut.
Metode pemindaian ekstrem dan Ancaman Hak Cipta
Kekhawatiran utama para pelaku industri tak hanya terbatas pada penjualan tanpa izin, tetapi juga pada proses konversi data. Diduga kuat, ribuan buku fisik tersebut dihancurkan dengan cara dipotong bagian punggungnya (book slicing) agar lembarannya dapat dipindai secara cepat ke bentuk digital sebagai basis data pelatihan modul AI.
Tindakan ini dinilai mengeksploitasi karya intelektual secara sepihak demi kepentingan komersial pengembang kecerdasan buatan.
“Sangat disayangkan jika sebuah distributor menjual buku padahal tahu karya-karya tersebut bakal dipakai untuk melatih AI. Izin resmi dari penulis dan penerbit adalah syarat mutlak sebelum buku disediakan untuk tujuan semacam itu,” tegas salah satu sumber senior dari industri penerbitan Jepang.
Pembelaan Pihak Distributor
Menanggapi tuduhan tersebut, Nippan Group Holdings berkali-kali menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui peruntukan akhir dari buku-buku yang dibeli oleh Anthropic. Perusahaan mengklaim transaksi berlangsung layaknya jual-beli komersial biasa tanpa ada pemberitahuan bahwa buku tersebut akan dipindai maupun dijadikan materi deep learning AI.
Skandal ini kini menjadi sorotan global karena mempertegas rekam jejak industri AI yang terus bersinggungan dengan isu privasi dan pelanggaran hak cipta materi kreatif di berbagai negara. (*/tur)