KALTENG.CO-Perselingkuhan merupakan salah satu masalah paling kompleks dan menyakitkan dalam dinamika hubungan romantis.
Ketika seseorang mengetahui pasangannya berselingkuh, pertanyaan yang hampir selalu pertama kali muncul adalah: “Mengapa dia melakukan itu?”
Pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit ketika pihak yang berselingkuh adalah perempuan. Selama ini, terdapat anggapan populer bahwa perempuan cenderung lebih setia, atau jika mereka berselingkuh, alasannya selalu berakar dari hilangnya rasa cinta. Namun, dari sudut pandang psikologi, kenyataannya jauh lebih beragam dan tidak semata-mata hitam-putih.
Tidak ada satu alasan tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seorang perempuan mengambil keputusan untuk melangkah ke luar dari komitmen.
Setiap hubungan memiliki dinamika unik, dan perselingkuhan biasanya terjadi akibat interaksi kompleks antara kebutuhan emosional, kualitas komunikasi, kesempatan, konflik pribadi, hingga karakteristik individu.
Penting untuk dipahami bahwa pembahasan mengenai latar belakang psikologis ini tidak hadir sebagai bentuk pembenaran terhadap tindakan perselingkuhan.
Memahami pemicu dan faktor di balik perselingkuhan bertujuan untuk membedah masalah secara komprehensif, bukan untuk merestui perilaku yang merusak kepercayaan tersebut.
Dilansir dari Psychology Today, terdapat lima alasan utama dari sudut pandang psikologi yang sering kali menjadi latar belakang mengapa seorang perempuan berselingkuh:
1. Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi (Emotional Disconnection)
Bagi banyak perempuan, kedekatan emosional merupakan pondasi utama dalam mempertahankan kepuasan hubungan. Ketika komunikasi merenggang, rasa dihargai memudar, atau timbul perasaan diabaikan secara emosional oleh pasangan, jarak emosional pun tercipta. Dalam situasi ini, kehadiran orang lain yang memberikan perhatian, validasi, dan pendengaran yang aktif dapat menjadi pemicu kuat munculnya keterikatan emosional baru (emotional affair) yang berlanjut pada perselingkuhan fisik.
2. Upaya Melarikan Diri dari Konflik dan Masalah Hubungan
Ketidakpuasan terhadap pasangan, konflik yang menumpuk tanpa penyelesaian, atau hubungan yang terasa dingin kerap memicu stres emosional yang berat. Daripada menghadapi konfrontasi langsung atau mengakhiri hubungan—terutama jika ada hambatan finansial atau sosial—sebagian perempuan memilih jalur eskapisme. Hubungan di luar pasangan dianggap sebagai tempat pelarian sementara untuk mendapatkan kenyamanan tanpa beban konflik rumah tangga.
3. Pencarian Kembali Identitas dan Rasa Percaya Diri
Seiring berjalannya waktu, peran dalam hubungan atau pernikahan—seperti menjadi ibu atau pengurus rumah tangga—dapat membuat seseorang kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri. Ketika rasa percaya diri menurun dan merasa tak lagi menarik bagi pasangan, perhatian dari orang asing dapat memberikan dorongan ego (ego boost). Validasi eksternal ini membuat mereka kembali merasa diinginkan, berharga, dan berdaya sebagai seorang individu.
4. Dorongan Keinginan Seksual dan Kebosanan
Meskipun perselingkuhan perempuan sering diidentikkan dengan aspek emosional, faktor kebutuhan fisik dan seksual juga memegang peranan yang tak kalah besar. Ketidakcocokan dalam kehidupan intim, kejenuhan terhadap rutinitas tempat tidur, atau hilangnya gairah (spark) dalam hubungan jangka panjang dapat mendorong pencarian sensasi baru. Adrenalin dari hubungan rahasia kerap disalahartikan sebagai gairah yang hilang dari hubungan utama.
5. Bentuk Balas Dendam atau Revenge Affair
Perselingkuhan juga bisa muncul sebagai reaksi pertahanan atau pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu. Jika pasangan sebelumnya pernah berselingkuh, melakukan kebohongan besar, atau melakukan tindakan yang melukai secara emosional, perselingkuhan dapat digunakan sebagai mekanisme untuk menyeimbangkan kedudukan atau mengekspresikan kemarahan yang terpendam.
Refleksi dan Langkah Pemulihan Hubungan
Memahami alasan di balik tindakan perselingkuhan merupakan langkah awal jika suatu pasangan berniat untuk melakukan evaluasi atau pemulihan (healing process). Perselingkuhan hampir selalu menandakan adanya celah atau keretakan dalam komunikasi dan pemenuhan kebutuhan antar-pasangan.
-
Evaluasi Kejujuran: Kejujuran mendalam mengenai apa yang kurang atau terasa hilang dalam hubungan sangat diperlukan untuk menentukan arah masa depan.
-
Komunikasi Efektif: Membangun ruang aman untuk saling mendengarkan tanpa menghakimi membantu mencegah penumpukan resentimen di masa mendatang.
-
Bantuan Profesional: Menghadapi dampak trauma perselingkuhan bukanlah hal mudah. Menerapkan konseling pasangan bersama psikolog atau terapis pernikahan dapat membantu mengurai kompleksitas emosi secara objektif. (*/tur)