KALTENG.CO-Dunia sinema monster kembali bergemuruh. Rivalitas paling legendaris dalam sejarah kaiju siap tersaji ulang di layar lebar lewat proyek terbaru, Godzilla Minus Zero.
Menjelang penayangannya di bioskop pada 4 November mendatang, perhatian para penggemar sinema monster tertuju pada konfirmasi sutradara Takashi Yamazaki terkait hadirnya sang musuh bebuyutan utama: naga emas berkepala tiga, King Ghidorah.
Kemunculan King Ghidorah diprediksi menjadi ancaman terbesar bagi Godzilla dalam era narasi pasca-Perang Dunia II yang diusung oleh waralaba anyar ini. Perseteruan kedua monster raksasa ini sudah begitu terpatri di dalam budaya pop modern, setara dengan persaingan Batman dan Joker, Superman dan Lex Luthor, hingga Optimus Prime dan Megatron.
Bukan hal baru, bentrokan mereka telah membentang selama lebih dari enam dekade menembus pergeseran era dan kontinuitas cerita. Berikut adalah rekap rekam jejak perseteruan ikonik kedua monster dari masa ke masa sebelum kembali bertarung di Godzilla Minus Zero.
1. Era Showa (1964–1972): Ancaman Alien Pemusnah Peradaban
King Ghidorah pertama kali diperkenalkan oleh Toho Studios melalui film Ghidorah, the Three-Headed Monster (1964). Berbeda dari Godzilla yang lahir sebagai manifestasi bahaya radiasi nuklir di Bumi, Ghidorah diposisikan sebagai makhluk teror dari luar angkasa yang menghancurkan peradaban planet demi planet.
Saking kuatnya King Ghidorah pada debut perdananya, Godzilla tidak mampu bertarung sendirian. Ia harus membentuk aliansi bersama Rodan dan Mothra untuk memukul mundur sang naga alien.
Dominasi pertarungan ini berlanjut dalam Invasion of Astro-Monster (1965) dan Destroy All Monsters (1968). Sepanjang era Showa, Ghidorah selalu diposisikan sebagai ancaman pemungkas (final boss) yang membutuhkan gabungan kekuatan beberapa kaiju sekaligus untuk bisa ditundukkan.
2. Era Heisei (1991): Hasil Mutasi Rekayasa Genetik Masa Depan
Memasuki era Heisei, Toho memperbarui latar belakang asal-usul perseteruan keduanya lewat Godzilla vs. King Ghidorah (1991). Pada versi ini, Ghidorah bukan lagi entitas alien, melainkan hasil rekayasa genetik dari tiga makhluk masa depan bernama Dorat yang terpapar radiasi nuklir di Samudra Pasifik.
Film ini menyajikan salah satu duel satu lawan satu paling brutal dan personal tanpa campur tangan monster lain. Godzilla berhasil memotong salah satu kepala Ghidorah dalam pertarungan sengit.
Namun, ancaman belum berakhir. Sisa tubuh Ghidorah dimodifikasi secara siber menjadi Mecha-King Ghidorah untuk melakoni pertarungan klimaks di tengah kota Tokyo.
3. Era Millennium (2001–2004): Pembalikan Peran dan Wujud Keizer Ghidorah
Dinamika rivalitas kedua monster mengalami transformasi paling radikal dalam Godzilla, Mothra and King Ghidorah: Giant Monsters All-Out Attack (2001). Sutradara Shusuke Kaneko secara berani membalik peran klasik kedua makhluk tersebut.
Godzilla diposisikan sebagai antagonis murni yang dirasuki arwah jiwa-jiwa korban Perang Pasifik. Sebaliknya, King Ghidorah bertindak sebagai salah satu dari tiga Dewa Pelindung Bumi yang bertugas melindungi manusia dari amukan destruktif Godzilla. Meskipun akhirnya hancur, Ghidorah memberikan dorongan energi terakhir yang membantu militer meredam Godzilla.
Puncak era Millennium terjadi pada Godzilla: Final Wars (2004). Ghidorah kembali sebagai senjata pamungkas invasi alien Xilien. Berawal dari wujud bipedal bernama Monster X, ia bertarung sengit di reruntuhan Tokyo sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Keizer Ghidorah—wujud naga berkaki empat raksasa dengan semburan anti-gravity beam yang hampir mencabut nyawa Godzilla.
4. Era Anime Netflix: The Planet Eater (2018)
Bentrokan bernuansa beda hadir dalam film ketiga trilogi anime Netflix, Godzilla: The Planet Eater (2018). Dalam kontinuitas ini, Ghidorah digambarkan sebagai entitas antardimensi bertubuh energi murni yang dipanggil oleh ras Exif.
Hadir dalam wujud leher emas raksasa yang menembus lubang hitam (black hole), Ghidorah sempat melumpuhkan Godzilla karena keberadaannya berada di luar hukum fisika Bumi. Pertarungan ini menjadi salah satu duel paling abstrak dengan skala kosmologis sepanjang sejarah waralaba.
5. MonsterVerse (2019–2021): Dominasi Global dan Kesadaran Mechagodzilla
Legendary Pictures membawa bentrokan ini ke skala sinematik global lewat Godzilla: King of the Monsters (2019). Ghidorah (dikenal sebagai Monster Zero) dihadirkan kembali sebagai titan alien invasif yang membangkitkan seluruh monster di Bumi untuk mengubah ekosistem planet secara ekstrem.
Pertarungan klimaks mereka meletus di Boston. Godzilla yang menyerap pasokan radiasi masif bertransformasi menjadi Burning Godzilla dan memusnahkan Ghidorah hingga tak tersisa.
Meski tubuh fisiknya hancur, pengaruh Ghidorah belum selesai. Dalam Godzilla vs Kong (2021), kesadaran dari isi kepala Ghidorah yang tersisa dihubungkan ke robot raksasa buatan Apex Cybernetics, Mechagodzilla. Secara teknis, Godzilla kembali bertarung melawan kesadaran musuh lamanya sebelum akhirnya dihancurkan sepenuhnya dengan bantuan Kong.
Bakal Seperti Apa Pertarungan di Godzilla Minus Zero (2026)?
Melanjutkan kesuksesan fenomena Godzilla Minus One (2023) yang sukses meraih berbagai penghargaan internasional termasuk Piala Oscar, Godzilla Minus Zero dipastikan membawa perseteruan ini kembali ke akar historis dan elemen ketakutan murni.
Kepastian hadirnya King Ghidorah yang dikonfirmasi oleh Takashi Yamazaki memicu berbagai spekulasi. Bagaimana monster alien berukuran masif ini diintegrasikan ke dalam latar Jepang pasca-Perang Dunia II yang sedang dalam kondisi hancur dan terpuruk?
Dengan mengusung nuansa kelam dan latar sejarah yang pekat, Godzilla Minus Zero diproyeksikan menjadi panggung pertarungan paling destruktif, emosional, dan megah antara dua raja monster saat resmi dirilis pada 4 November mendatang. (*/tur)